PADANG - Rapat koordinasi para Ketua PWNU secara daring pada Kamis (2/7/2026) malam, mayoritas Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dari berbagai provinsi di Indonesia menyatakan dukungan agar DKI Jakarta ditetapkan sebagai lokasi penyelenggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke-35. Tetapi kalau PBNU menetapkan Sumatera Barat sebagai tuan rumah Muktamar, PWNU Sumbar juga siap.
Hal ini diungkapkan Ketua PWNU Sumatera Barat (Sumbar) Prof.H. Ganefri, Ph.D, Jumat. Ia juga menyebutkan,bahwa dukungan untuk DKI Jakarta tersebut dituangkan dalam pernyataan bersama yang disepakati dalam rakor daring tersebut.
"Dan PWNU Sumbar mendukung DKI Jakarta sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-35 yang akan dilaksanakan awal Agustus 2026 ini. Dan kalau PBNU menetapkan Sumatera Barat sebagai tuan rumah Muktamar, PWNU Sumbar juga siap," tegasnya.
Prof.H. Ganefri, Ph.D, juga menyebutkan, salah satu poin penting dalam dalam dokumen pernyataan bersama tersebut dijelaskan, usulan ini disampaikan setelah mencermati dinamika penentuan lokasi Muktamar Ke-35 yang hingga kini masih bergulir.
Selain itu, PBNU belum menetapkan lokasi pelaksanaan Muktamar Ke-35 sebagaimana hasil Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU yang digelar di Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, Jawa Timur, pada 20-23 Juni 2026.
“DKI Jakarta memenuhi 5 (lima) kriteria tempat penyelenggaraan Muktamar sebagaimana ditetapkan dalam Munas dan Konbes Tahun 2026 di Ponpes Al Falah Ploso," sambungnya.
Selain itu, waktu persiapan yang tersisa kurang dari 30 hari dinilai membutuhkan koordinasi, konsolidasi, dan akselerasi yang cepat, baik secara internal maupun eksternal, sehingga Jakarta dianggap paling mampu memenuhi kebutuhan tersebut.
DKI Jakarta, sambungnya, memiliki kesiapan sarana dan prasarana, termasuk fasilitas transportasi yang memadai untuk menampung serta mendukung mobilitas peserta Muktamar yang berasal dari seluruh PWNU, PCNU, peserta peninjau, maupun warga NU.
Faktor aksesibilitas juga menjadi pertimbangan penting. Jakarta dinilai lebih mudah dijangkau melalui jalur darat bagi peserta dari Pulau Jawa dan sebagian Sumatera, serta melalui penerbangan langsung dari kawasan Indonesia Tengah, Indonesia Timur, dan sebagian Sumatera. Kondisi tersebut diyakini dapat mempercepat waktu perjalanan sekaligus menekan biaya transportasi peserta.
Editor : Abna Hidayati






