Padang - Upaya mendorong transisi energi di Sumatera Barat tidak hanya berbicara tentang mengganti sumber energi fosil dengan energi terbarukan. Persoalan yang tak kalah penting adalah bagaimana kebijakan itu dijalankan hingga ke tingkat masyarakat yang akan langsung merasakan dampaknya.
Hal itu disampaikan Apriwan Ph.D., dosen Hubungan Internasional Universitas Andalas sekaligus peneliti dari Pusat Studi untuk Keadilan Agraria dan Lingkungan (CAEJ) Unand, dalam kegiatan Workshop CSO: Merumuskan Transisi Energi Berkeadilan di Sumatera Barat yang digelar LBH Padang di Balai Diklat Keagamaan Padang, Kamis (12/3/2026).
Menurut Apriwan, salah satu persoalan utama dalam transisi energi di Indonesia adalah tata kelola yang masih bersifat sentralistik. Padahal, proses pengambilan keputusan dalam sektor energi melibatkan banyak level, mulai dari kepentingan global hingga implementasi di tingkat lokal.
Ia menjelaskan, proses pengambilan keputusan yang tidak melibatkan masyarakat secara bermakna sering kali memicu konflik ketika proyek mulai dijalankan.
Editor : Marjeni Rokcalva






