PADANG - Bencana hidrometeorologi yang melanda Salareh Aia (Palembayan), Silayang (Agam), dan Koto Tinggi (Payakumbuh) menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya menyentuh aspek fisik. Tekanan psikologis, gangguan emosi, dan kecemasan masih dirasakan oleh masyarakat setempat.
Demikian disampaikan oleh Prof. Ifdil ketika dihubungi wartawan portal beritaminang.com pada Selasa (30/12) melalui pesawat telepon selulernya.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Universitas Negeri Padang (UNP) menerapkan model intervensi terpadu yang menggabungkan pendampingan psikososial berbasis Ifdil Perceptual Light Technique (IPLT), pendidikan darurat inklusif, serta penyaluran bantuan logistik.
Program ini dipimpin oleh Prof. Ifdil bersama tim dosen lintas keilmuan. Prof. Dr. Afdal dan Dr. Zadrian Ardi fokus pada intervensi konseling trauma. Prof. Asmar Yulastri dan Dr. Nurhastuti mengoordinasikan pendidikan darurat dan perlindungan kelompok rentan.
Mahasiswa turut dilibatkan sebagai bentuk praktik pembelajaran sosial, menangani asesmen psikososial dan pendampingan kelompok, dan membantu penyaluran bantuan dan edukasi kesiapsiagaan.
Di setiap lokasi, tim UNP juga menyelenggarakan parenting support dan penguatan jejaring sosial masyarakat sebagai fondasi resiliensi jangka panjang.
Program ini didukung pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Tanggap Darurat Bencana Tahun 2025. (ET)
Editor : Ermanto






