Menurutnya, program silek tradisi yang telah diterapkan di lebih dari 150 sekolah menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga khazanah budaya Minangkabau. Lebih jauh, program ini juga menjadi alat untuk membentuk jati diri generasi muda yang kuat dan berkarakter di tengah arus globalisasi.
“Harapannya, silek tidak hanya menjadi simbol masa lalu, tapi tumbuh menjadi instrumen pendidikan karakter yang hidup dan relevan untuk masa depan Sumbar,” tambahnya.
Wakil Rektor IV UNP, Deski Beri, juga menekankan perlunya perguruan tinggi hadir lebih dekat ke masyarakat. “Sudah saatnya kampus keluar dari kesan menara gading. Melalui program seperti ini, kita punya ruang nyata untuk berkontribusi terhadap pembangunan sosial dan budaya,” ujarnya.
“Silek adalah kombinasi nilai-nilai budaya, kekuatan fisik, solidaritas sosial, bahkan spiritualitas. Inilah alasan kami menjadikannya sebagai kajian interdisipliner yang strategis,” pungkas Afriva. (Adpsb/BM)
Editor : Marjeni Rokcalva






