Suci Rafani dalam kompasian.com juga menulis, menurut Tambo alias cerita turun temurun disebutkan bahwa nenek moyang orang minang adalah 3 orang bersaudara. Saudara tertua adalah Maharaja Ali, yang kedua Maharaja Depang dan yang terakhir Maharaja Diraja. Ketiganya adalah putra dari Sultan Iskandar Zulkarnaen dari daerah yang sangat jauh.
Mereka berlayar dengan tiga kapal, kemudian melihat puncak gunung Marapi yang jika dilihat dari kejauhan ukurannya sebesar telur itik. Ketiganya pun memutuskan menambatkan kapal dan beristirahat di sana. Akan tetapi terjadi sebuah keributan diantara ketiganya, sehingga membuat Maharaja Ali dan Maharaja Depang memutuskan untuk meninggalkan daerah ini, sedangkan Maharaja Diraja tetap tinggal di puncak gunung Marapi.
Ketika air laut turun dan daratan naik, beliau kemudian menaruko atau merambah daerah tersebut dan mulai membangun pemukiman. Nama desa pertama yang dibangun adalah Pariangan. Pemukiman terus berkembang hingga sampai ke daerah tempat berdirinya Istana Pagaruyung. Daerah itu kemudian dinamakan Tanah Datar dan diberi simbol warna kuning sebagai simbol asal usul adat.
Setelah itu masyarakat semakin berkembang, banyak pendatang bermukim dan berbaur di Tanah Datar, mereka lalu pergi ke arah Bukittinggi membangun daerah kedua bernama Agam lalu diberi tanda warna merah sebagai simbol keberanian karena mereka hidup di daerah yang berada diantara Gunung Marapi dan Gunung Singgalang. Setelah itu mereka pergi lagi dan menyebar ke daerah 50 Kota yaitu Lembah Harau yang merupakan daerah yang keras. Mereka menyimbolkan dengan warna hitam dengan arti " tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan".

Suasana makan bajamba menghiasi Festival Pesona Minangkabau.
Dalam perkembangannya ada pula orang yang menyamakan simbol warna ini dengan karakter masyarakat yang hidup ditiga tempat tersebut. Kuning itu kolot atau sangat menjunjung tinggi adat, sementara merah itu revolusioner dan pemberani sedangkan hitam itu berarti sangat keras dan teguh.
Kini dan entah sampai kapan, kita tentu berharap Istano Basa Pagaruyung tetap bediri kokoh dan menjadi perlambang adat Minangkabau nan tak lekang dek paneh dan tak lapuk dek hujan. Dan Fetival Pesona Minangkabau bisa terus berjalan dengan cakupan besar mendapat dukungan seluruh kabupatan dan kota di Sumbar. Semoga. (MR)
Editor : Berita Minang






