LIMA PULUH KOTA - Telah hampir satu bulan Khatib.Khamun (68) warga Jorong Tareh Nagari Balai Panjang Kecamatan Lareh Sago Halaban Kabupaten Limapuluh Kota terkapar di tengah rumahnya karena menderita sakit tanpa pengobatan medis karena tidak mampu untuk berobat ke Rumah Sakit, disebabkan tidak memiliki kartu BPJS untuk mendapatkan pengobatan gratis, hanya mengandalkan pengobatan "kampung" melalui orang orang pandai.
Namun penyakit yang dideritanya tidak kunjung sembuh.
Kondisi Kh.Kamun yang bekerja sebagai buruh tani dan tukang angkat barang di pasar Tareh itu, sampai ke telinga Wali Nagari Balai Panjang , Idris,yang disampaikan Widya Wati seorang Wartawan di Bukittinggi yang juga berjualan di pasar Tareh tersebut setiap hari Minggu.
Mendapat informasi tersebut,Senin( 25/03) Walinagari yang inovatif dan dekat dengan rakyatnya itu, langsung merespon, dengan menjemput Kamun ke rumahnya di jorong Tareh, dengan ambulans Puskesmas Pakan Rabaa Gadut, untuk menjalani pengobatan di Puskesmas tersebut.
Setelah menjalani pemeriksaan oleh petugas Puskesmas,Kamun membutuhkan pemeriksaan lebih mendalam dan harus menjalani perawatan yang intensif, karena kondisinya sudah sangat lemah. Untuk itu hanya bisa dilakukan di Rumah sakit, pihak Puskesmas menyarankan di rujuk ke RSUD Kabupaten Limapuluh Kota di Suliki, atau ke RSU.Adnan WD di Payakumbuh.
" Yang penting pak kamun berobat,bawa dulu ke rumah sakit,soal kartu bpjs nanti dipikirkan, keselamatan dan kesehatan pak kamun yang penting dulu. Dima tumbuah,disitu disiang Beko,kita akan Carikan solusi pembiayaannya nanti," ungkap Walinagari Idris kepada keluarga Kamun waktu mengambil surat permohonan bantuan ke Baznas.
Semuanya berproses, Kamun sudah dilakukan pemeriksaan lebih mendalam di RSID.Adnan WD, dilakukan pemeriksaan labor, dan ronxen, ternyata hasil diagnosa dokter, Kamun menderita penyakit di bagian lambung,kata dokter kepada keluarnya.
Kamun menderita usus buntu,tetapi sudah pecah dan membusuk, satu satunya jalan pengobatan melalui operasi.
Mendengar penjelasan dokter, membuat keluarga Kamun panik, membayangkan besaran rupiah yang harus dicari untuk biaya operasi,biaya perawatan,belum lagi beli obat dan biaya keluarga yang menunggui Kamun selama pengobatan, sementara dia tidak memiliki kartu BPJS kesehatan.
Editor :






