" Petani menjual bubuk kopi satu kg Rp 75 ribu, sementara bila yang dijual bijinya hanya Rp 25 ribu," kata wali nagari.
Dijelaskan, usaha untuk merintis produksi bubuk kopi sudah dilakukan semenjak tahun 2018 lalu, dengan melakukan pelatihan petani, kemudian dilanjutkan tahun 2019 untuk membuat kemasan dan merek hingga dilaunching hari ini.
Ditambahkan pihaknya optimis kopi mancakau akan mampu menguasai pasar, karena aroma kopi produksi nagarinya memiliki sensasi khas.
Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten
" Yang istimewa sekali rasanya akan berubah menjadi wangi durian jika biji kopi dipanen bersamaan dengan musim durian,"kata wali nagari. RND
Editor :







