Jakarta, 9 April 2026 - Transisi energi Indonesia berada di persimpangan jalan. Di tengah ancaman kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) akibat dinamika Timur Tengah, kebijakan pembatalan pensiun dini Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) justru memperlambat agenda energi nasional. Sementara itu, tuntutan transparansi dan keadilan dari masyarakat terdampak proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) di Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Jawa Barat semakin menguat.
Aspirasi mereka yang terangkum dalam Lokakarya Transisi Energi Berkeadilan yang dilaksanakan di masing-masing daerah menegaskan satu seruan yang sama, yaitu bahwa percepatan transisi energi harus berjalan inklusif, berakar pada kearifan lokal, dan mengedepankan kemaslahatan publik, bukan sekadar pencapaian target angka di atas kertas.
Sektor energi menjadi salah satu penyumbang terbesar emisi global, dengan batu bara diprediksi Badan Energi Internasional masih menjadi sumber listrik terbesar hingga 2030. Indonesia telah merespon melalui komitmen Nationally Determined Contribution (NDC), target Net Zero Emission 2060, serta sejumlah kebijakan percepatan EBT, namun implementasinya masih tersandung seperti pensiun dini PLTU yang tak kunjung terlaksana dan proyek EBT yang belum sepenuhnya melibatkan suara masyarakat terdampak.
Di Sumatera Utara, hasil penelitian yang dilakukan Yayasan Srikandi Lestari menunjukkan 70% warga di sekitar PLTU Pangkalan Susu sebenarnya sudah memahami secara utuh dampak pembakaran batu bara dari PLTU. “Tetapi, karena narasi yang dibangun bahwa energi bersih mahal maka jadi kurang diminati,” jelas Direktur Yayasan Srikandi Lestari, Sumiati Surbakti.
Sementara di Jawa Barat, rencana pensiun dini PLTU Cirebon-1 mendapat sambutan baik dari nelayan hingga pengupas rajungan mengingat dampak yang ditimbulkan selama ini. Fasilitas jetty atau dermaga pengangkutan batubara membuat nelayan seringkali harus memutar karena jalur mereka terhalang jembatan jetty. Wiwid, pengupas rajungan dari Desa Waruduwur, Indramayu mengungkapkan dampak ekonomi yang dirasakan perempuan. “Kami juga terdampak. Hasil tangkapan rajungan menurun, sehingga pendapatan kami ikut berkurang,” ujarnya dalam diskusi lokakarya.
Editor : Marjeni Rokcalva






