Sejalan dengan Muhammadiyah dalam soal mahami makna Islam dan masyarakat serupa tetapi di sana sini ada variasi, maka lahirlah Nahdhatul Ulama. Artinya kebangkitan para ulama. Gerakan para ulama dalam pendidikan. Muhammadiyah berbasis pengajian dan halaqah searta sekolah dan madrasah.
Sedangkan NU berbasis Pesantren dan Kiyai sebagai figur sentral. Melakukan pengajian khusus. Muhammadiyah mempopulerkan dakwah lisan dengan siaran langsung tatap muka dalam jumlah besar yang disebut Tabligh.
NU belakangan juga begitu. Tetapi habitat berkembang. Dari semula secara hayati Pesantren adalah basis NU dan Madrasah atau sekolah basis Muhamadiyah. Belakangan keduanya saling mengisi. Muhammdiyah semakin gencar mengambangkan pesantren di samping sekolah dan madrasaah. Begitu pula NU gencar mengembangkan sekolah dan madasarah di samping pesantren.
Ada 172 Perguruan Tinggi dan Universitas Muhammadiyah-Aisyiyah. Ada puluhan Perguruan Tinggi dan Universitas NU.
Sampai beberapa dekade awal, secara umum Muhammadiyah disebut sebagai Gerakan modernisme Islam karena selalu menggali ajaran Islam menurut ilmu pengetahuan, logika dan budaya modern yang tak bertentangan dengan Quran dan Sunnah.
Sementara NU memilih salah satu Mazhab fikih. Muhammadiyah terus memperbaharui pemahamannya dalam agama hampir meliputi semua bidang yang menjadi lahan ijtihad muamalah, memurnikan akidah dan ibadah dalam kajian Tarjih dan Tajdid.
Begitu pula NU selalu meninjau dan membahas ulang paham lapangan ijtihad muamalah mereka yang disebut "bahtsul masaail". NU pada eksistensi awal atau hayatinya memilih salah satu dari Mazahab Fikih yang ada.
Akan tetapi sekarang habitat ulama NU pada berbagai bidang tertentu sudah melampaui zamannya. Dalam konteks politik kelihatan warga dan pemimpin Muhammadiyah bebas aktif dan NU lebih bervariasi. Kader-kader NU ada di mana-mana.
Mereka tidak lagi membatasi masuknya berbagai potensi dan sumber. Cukup sebelum atau sesudah di NU mereka di didik dalam kancah Madrasah Kader NU. Untuk diisi pengetahuan, pemahaman dan praktik kebergamaan serta kurikulum lainnya. Lalu mereka menjadi kader NU . Kemudian dengan multi polar posisi itu mereka menggesa kadernya masuk ke berbagai lini.
Editor : Berita Minang






