Walaupun begitu tetap saja dalam wacana publik yang ditonjolkan sebagai pendiri Muhammadiyah adalah KH Ahmad Dahlan (1868-1923).
Begitu pula NU didirikan oleh KH Hasyim Asy'ari (1871-1947). Kedua mereka berasal dari satu orang kakek, yaitu Maulana Ainul Yakin bin Maulana Ishak.
Dahlan yang masa kecilnya bernama M Darwis (usia 16) dan Hasyim Asy'ari (usia 14) sama nyantri belajar Qur'an, hadist, fikih, tasawuf dengan guru yang sama Ustazd Shaleh pada Pesantren Kiyai Murtadho, mertua Shaleh.
Menunjukkan keakraban di antara mereka, Darwis memanggil Adik Hasyim dan Hasyim memanggil Mas Darwis. Hal itu berlanjut. Guru mereka di Mekah sama, yaitu ulama Minangkabau Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi (1860—1916). Di sana keduanya (1893-1890) dan tentu bersama ulama lain bersentuhan bukan hanya dengan pemikiran yang hidup di Semenanjung Arabia, tetapi juga membaca kitab, beririsan dengan pemikiran serta diskursurs ulama yang kala itu berorientasi kemajuan, ilmu pengetahuan dan peradaban dalam membumikan Quran dan sunnah.
Kala itu ada tokoh Mesir, Turki, Syria, Iran, Afghanistan dan India. Di antaranya yang amat popoler Jamaluddin al-Afghani ( 1838-1897) dan Muhammad Abduh ( 1849-1905) serta Rasyid Ridha (1865-1935). Belakangan ketiganya bersama ulama sealiran dianggap tokoh modern dalam pemikiran dan gerakan dunia Islam.
Secara hayati Muhammadiyah berarti pengikut Muhammad lahir untuk menyebarkan ajaran Islam yang di bawa Nabi Muhammad Rasululllah saw. Kegiatan awal adalah pendalaman agama dengan halaqah, lingkaran pengajian Quran, makna, tafsiran dan bagaimana membumikannya.
Menggesa pemikiran rasional dan berkemajuan. Menggerakkan amal, ikhtiar dan usaha mempaktekkan ajaran Quran dan Hadist dalam kehidupan kemanusian secara nyata.
Apa yang disebut dalam Quran untuk beberapa yang mungkin harus menjadi bukti tampak dan terukur. Bukan semata nasihat, taushiyah, kabar gembira, kabar pertakut, apalagi bualan semata.
Misalnya memahami praktik Surat al-Maun. Apa kaitan mendirika, mengerjakan shalat dengan kepedulian kepada anak yatim dan orang miskin. Hubungan shalat dengan membantu orang yang lain yang membutuhkan secara bekelanjutan. Maka secara hayati, Muhammadiyah adalah geakan keagamaan, social, kejahteraan, ilmu pengetahuan, pendidikan dan kemanusiaan.
Editor : Berita Minang






