PADANG PANJANG - Makanan tradisional merupakan makanan yang dibuat oleh orang tua terdahulu. Kemudian resepnya diberikan secara turun temurun agar tetap dapat dinikmati oleh anak cucu. Salah satunya bika daun.
Untuk soal rasa tak usah diragukan lagi, bika selain terbuat dari bahan yang alami juga diproses secara tradisional. Ini yang menjadikannya memiliki cita rasa yang tetap terjaga dan unik.
Bika daun salah satu makanan tradisional yang sudah mulai jarang untuk kita temui saat ini. Ketika mendengar nama bika, dalam benak anak milenial pasti akan teringat bika ambon asal Medan.
Tetapi siapa sangka urang Minang juga mempunyai kue bika yang tak kalah nikmat dan lezatnya dari bika ambon. Apalagi bahan pembuatannya, dari bahan - bahan yang alami seperti kelapa, tepung, dan gula serta proses pembuatannya dipanggang kurang lebih selama 15 - 20 menit dalam tungku.
Selanjutnya, dibungkus dengan daun yang bernama daun baru. Daun itu didatangkan dari Pariaman oleh Pak Samsul Bahri yang menjual bika daun di Pasar Padang Panjang.
Samsul Bahri, (55), pria asal Kebun Sikolos, Padang Panjang bersama istrinya Mardiani, (50), sudah berjualan bika daun kurang lebih selama 3,5 tahun. Sebelumnya Pak Samsul berjualan lotek selama 18 tahun. Namun kini ia beralih berjualan bika.
Pak Samsul biasa berjualan menjajakan dagangannya mulai pukul 10.00 wib s/d 18.00 wib. Sedangkan sang istri juga berjualan bika daun dijalan ke Bukittinggi daerah Gantiang sebelah SPBU.
Setelah ia membuka lapak dagangan istrinya di sebelah SPBU Ganting, kemudian baru dia berjualan dengan gerobaknya berkeliling di daerah Pasar Padang Panjang.
Bika daun buatan Pak Samsul dan Istri mempunyai 3 varian rasa. Ada rasa pisang, gula merah, dan durian.
Editor : Berita Minang






