IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Pengelola Objek Wisata Perlu Menerapkan HIRA

Foto DR. Dede Farhan Aulawi
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

'when'-kapan dan seberapa lama resiko bisa terjadi ?

'where'-- dimana bahaya muncul dan dimana dampak akan terjadi ?

'how'-- bagaimana kemungkinan kecelakaan atas potensi bahaya bisa terjadi ?

Kemudian tahap berikutnya adalah melakukan 'evaluasi' terhadap resiko dengan menilai nilai ambang batas. Lalu langkah berikutnya adalah tahap menentukan langkah-langkah pengendalian dan penanggulangan yang akan dijalankan. Pendekatannya dapat menggunakan hirarki control sebagaimana pada HIRA Safety yaitu: Eliminasi, Substitusi, Engineering, Administration, dan PPE. Namun fokusnya diarahkan kepada tiga hal yaitu :

Pengendalian di tempat asal hazard ('source')

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Pengendalian di jalur menuju objek wisata ('exposure')

Pengendalian pada orang yang mungkin tertimpa bencana ('host')

Setelah melakukan hal ini langkah berikutnya dalah dengan melakukan komunikasi dan konsultasi hasil HIRA ini kepada ahli keselamatan pariwisata (tourism safety expert/ refresentative), termasuk mensosialisasikan kepada para pegiat kepariwisataan, khususnya para pengelola yang terlibat di suatu objek wisata agar mereka mengenali bahaya ini, risiko apa yang dihadapi, dan bagaimana cara penanganannya. Proses komunikasi dapat dilakukan dengan menempatkan rambu dan marka, label dan tanda terkait dengan bahaya dan risiko ini. Kemudian langkah terakhir adalah dengan melakukan monitor dan review terhadap pelaksanaan langkah control, hazards yang ada di suatu objek wisata. Dengan melakukan proses HIRA ini seperti di atas, maka resiko-resiko kecelakaan dapat diidentifikasi, dikendalikan, dan diantisipasi sebelum terjadinya suatu kecelakaan.

Untuk itulah sejak awal berdirinya organisasi Pegiat Ragam Wisata Nusantara (PRAWITA) GENPPARI, meletakan aspek safety di awal -- awal pertemuan. Jadi semacam safety brefing atau coffee morning di industri -- industri. Hal ini dilakukan dengan maksud agar para wisatawan yang berkunjung ke suatu objek wisata merasa aman, karena semuanya sudah siap dalam aspek safety. Termasuk seluruh pengelola yang terlibat memahami dan disiplin dalam penerapan segala ketentuan yang berkaitan dengan keselamatan (safety) tersebut. Jangan sampai saat datang ke objek wisata diawali dengan senyum dan keceriaan, tapi berakhir dengan isak tangis kesedihan. Prawita GENPPARI secara konsisten menggelorakan semangat "Datang dengan senyum Kebahagiaan, Pulang Membawa Sejuta Kenangan". (***)

Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777