SELURUHmata, telinga, fikiran, tenaga dan biaya saat ini di seluruh dunia hampir bisa dipastikan terkait pandemi virus Corona. Setiap kepala negara tentu memiliki otoritas untuk menentukan sikap melalui proses pengambilan keputusan yang disebut kebijakan Pemerintah. Setiap kebijakan yang diambil juga pasti sudah mempertimbangkan secara matang segala dampaknya. Dengan harapan keputusan yang diambil adalah keputusan yang terbaik buat seluruh warga negaranya.
Pemerintah Indonesia sendiri telah menjatuhkan pilihan pada kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), dimana salah satunya anjuran untuk "stay at home". Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan di rumah adalah membaca. Sampai suatu titik saya membaca salah satu ayat dalam kitab suci Al-Qur'an yang artinya :
"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)" (QS Ar-Ruum : 41)
Lama saya mencoba mentafakuri untuk menghayati dan memaknai ayat di atas, lalu dikaitkan dengan apa yang terjadi di muka bumi yang berselimutkan wabah yang mengkhawatirkan. Tafakur merupakan titik awal transformasi menuju hijrah.
Mungkinkah ini semua merupakan sebuah peringatan, sekaligus sebuah proses pembelajaran komprehensif agar manusia mawas diri. Kita "dipaksa" untuk berpikir sistematik dalam menemukan solusi yang bersifat sistemik. Ketidak berimbangan pada proses eksploitasi yang berlebihan, telah menempatkan manusia dalam posisi gagal untuk mensyukuri dan menahan diri dalam mengambil pemanfaatan sumber daya alam. Padahal segenap potensi alam yang telah diciptakan Allah SWT, tak lain dan tak bukan, dimaksudkan untuk diolah hingga memiliki nilai tambah serta dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari berkah untuk seluruh umat manusia tanpa melihat kasta dan strata.
Akhirnya lahirlah karakter 5G, yaitu golek menange dewe (mencari menangnya sendiri), golek butuhe dewe (mencari kebutuhan sendiri), golek benere dewe (mencari benarnya sendiri), golek senenge dewe (mencari kesenangan sendiri), dan golek slamete dewe (mencari keselamatan sendiri. Egosentrisme yang lahir dari kinerja survival tools di otak manusia.
Ketika spektrum naluri limbikiyah telah memancarkan sinar yang berintensitas tinggi, maka spektrum waskita perlahan berpendar menuju pudar karena terinferensi gelombang yang didominasi kecemasan. Kemudian mereduksi dan mengeliminasi kecerdasan. Kecerdasan kognitif terkanalisasi dalam saluran berprioritas tinggi untuk memodulasi, bahkan memanipulasi berbagai potensi untuk mempertahankan eksistensi. Kebijakan didominasi upaya terkonstruksi upaya mempertahankan eksistensi, bahkan melalui cara - cara yang bersifat agresi, ekspansi, okupasi, dan terkadang semua itu disertai sifat destruksi. Angkara yang bersimaharaja, berkelindan dengan banjir neurotransmiter pengeksitasi melahirkan ketrampilan berseni tinggi dalam proses mengeksploitasi berbagai hal yang semestinya dimaknai sebagai potensi untuk berbagi.
Domain qualia atau roso yang sebenarnya merupakan representasi akumulasi kecerdasan dalam modul intelijensia qolbiyah, kini menyusut kisut, terpojok ke sudut, tergantikan oleh pusaran vorteks kusut yang berasal dari olah pikir yang kalut. Ketidakseimbangan stream konektomik antar wilayah pengambilan keputusan strategik, mengakibatkan lahirnya turbulensi sistemik. PFC dan Insula sulit berkolaborasi dengan area Basal Ganglia. Hipokampal area teralienasi dalam kepungan arus deras kecemasan yang membanjir deras dari hulu Batang Otak yang telah tererosi dan daya dukung rasionalnya terdegradasi. Konflik keluarga sesama trah prosensefalon yang rukun sejak embrional kini meruncing. Telensefalon tak lagi bertegur sapa dengan diensefalon. Neokorteks dan PFC tak lagi hangat bercerita dengan thalamus dan hipokampus. Apalagi jika bicara di tingkat wangsa keturunan tuba neuralis : prosensefalon, mesensefalon, dan rhombencephalon yang telah berdiferensiasi dan mengalami spesifikasi fungsi meski sudah semestinya terus menyambung silaturahmi dan membina komunikasi karena menjalankan banyak fungsi.
Kadangkala disharmoni karena mispersepsi atau miskomunikasi menciptakan suasana panas. Bagian - bagian fungsional otak yang semestinya saling berinteraksi untuk membangun sinergi, malah jonggring salaka bernama Qualia terdampak panasnya olakan kawah Chandradimuka yang meletupkan nafsu membara dari dasar dapur magma naluri manusia. Akhirnya langit mendadak sepi dan riuh rendah jalanan tak lagi bersahutan. Ada bisikan halus yang perlahan terdengar semakin keras. Bahkan semakin lama semakin tegas. Mungkin agar selain mulai berpikir cerdas, juga harus bertindak gegas, sekaligus belajar bersikap ikhlas sebagai bagian dari ikhtiar.







