Fenomena korosi atau perkaratan pada berbagai infrastruktur berbahan baja dilaporkan semakin menjadi perhatian di sejumlah wilayah pesisir Indonesia. Paparan udara lembap, kandungan garam, serta polutan industri mempercepat proses korosi yang dapat mengurangi kekuatan struktur dan meningkatkan biaya perawatan.
Beberapa fasilitas seperti jembatan, pagar pelabuhan, tangki penyimpanan, hingga pipa distribusi air menunjukkan tanda-tanda degradasi material akibat korosi. Kondisi tersebut mendorong pemerintah daerah dan kalangan akademisi untuk memperkuat upaya pencegahan melalui penggunaan material pelindung dan teknologi pelapisan antikorosi.
Menurut peneliti di bidang material dan korosi, korosi merupakan reaksi elektrokimia antara logam dengan lingkungannya yang menyebabkan penurunan kualitas material secara bertahap. Jika tidak ditangani, korosi dapat menimbulkan kerugian ekonomi yang besar karena memperpendek umur pakai peralatan dan infrastruktur.
Selain inhibitor, metode elektrodeposisi juga menjadi perhatian karena mampu menghasilkan lapisan pelindung logam yang lebih seragam dan melekat kuat pada permukaan baja. Kombinasi antara pelapisan logam, seperti tembaga (Cu), dan inhibitor alami dinilai berpotensi meningkatkan ketahanan korosi secara signifikan, terutama pada baja tahan karat jenis SS-304 yang banyak digunakan di industri.







