IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Estetika Tersembunyi Dibalik Etika Minangkabau

Foto SUCI ANGGRAINI
Ilustrasi Estetika Tersembunyi Dibalik Etika Minangkabau
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Setiap apapun yang diciptakan memiliki makna nilai. Di dunia ini makhluk,tumbuhan,hewan maupun benda yang telah diciptakan membentuk keseimbangan dalam kehidupan. Hal ini dapat dirasakan dengan bagaimana manusia bisa hidup berdampingan memahami dan berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut yang akan memunculkan nilai-nilai dari kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia banyak masyarakat yang memandang atau melihat sesuatu dengan cara memperhatikan fisiknya melainkan fungsi dan manfaatnya,baik itu manusia,benda,tanaman maupun hewan. Hal demikian sudah menjadi suatu hal yang lumrah atau biasa dilakukan karena dengan melihat fisik atau yang hanya tampak dari luar seperti dari sisi penampilan biasanya sudah bisa menebak perilakunya. Tetapi sangat jarang juga ditemui yang sesuai dengan tebakan seperti demikian. Keindahan memang tergantung dari bagaimana cara kita memandang, terkadang apa yang kita lihat indah tetapi menurut orang lain itu biasa saja. Pada umumnya sesuatu yang diciptakan pasti mempunyai nilai keindahan tersendiri. Keindahan tidak hanya terlihat dari fisik tetapi masih banyak bentuk keindahan dari sisi yang lain.

Sumatera Barat terkenal dengan adat istiadat yang sangat kuat. Minangkabau merupakan suku yang mencangkup masyarakat yang menjunjung tinggi nilai adat dan norma. Begitu banyak aturan adat yang mengatur kehidupan masyarakat, setiap perbuatan memiliki cara dan aturan dalam pelaksanaannya. Salah satu aturan yang tidak bisa ditinggalkan atau diabaikan dalam hidup yaitu etika. Pedoman dalam bersikap dan bertindak sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku,sangat berpengaruh di kehidupan sehari-hari.

Secara umum,etika adalah sikap atau perilaku yang dilakukan seseorang yang memiliki nilai norma,meliputi sopan santun,dan adab. Sangat banyak etika yang ada di Minangkabau seperti etika dalam berbicara,makan dan minum,berjalan,duduk,berpakaian,bertamu dan lain-lain. Ketika kita salah dalam melakukannya efeknya pada diri sendiri yang akan merasa malu.

Estetika merupakan nilai keindahan yang terlihat memiliki arti dan makna. Apa pun bentuk sesuatu tidak akan luput dari keindahan. Manusia terlihat indah dari hati seperti orang yang baik hati,dan rendah hati. Manusia terlihat indah dari fisiknya seperti dengan mata yang indah dan hidung yang mancung,tumbuhan seperti bunga benda seperti tugu monas,jam gadang dan lain-lain. Dengan adanya keindahan dunia terasa lebih hidup.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Etika dalam kesenian merupakan sistem nilai yang hidup dan tertanam dalam tradisi serta kesadaran kolektif masyarakat. Landasan utama etika kesenian Minangkabau adalah Falsafah “Adat Basanndi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang berarti seluruh tatanan kehidupan termasuk kesenian harus bersesuaian dengan adat dan ajaran Islam.

Etika dalam Randai sebagai seni pertunjukan. Etika dalam randai sangat kaya akan dimensi etis. Etikanya terlihat pada pemain randai yang harus mematuhi aturan-aturan tertentu,mulai dari cara berpakaian,cara berbicara hingga cara membawakan cerita. improvisasi yang berlebihan dan melanggar norma tidak diperbolehkan. Setiap pemain juga harus menunjukkan sikap hormat kepada pemain lain,kepada penonton, dan kepada tradisi yang diwariskann oleh leluhur. Estetika terlihat pada gerakan yang teratur,irama musik yang selaras,kekompakan dan memainkan peran.

Dalam pemikiran masyarakat Minangkabau,estetika dan etika tidak pernah dipandang sebagai dua domain yang terpisah dan berdiri sendiri. Dua aspek yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Sebuah tarian yang gerakannya sangat indah namun melanggar norma-norma kesopanan tidak akan dianggap sebagai karya seni yang baik oleh masyarakat Minangkabau. Sebaliknya,sebuah karya seni yang bermoral dan sarat dengan pesan-pesan etis tetapi tidak memiliki nilai estetika yang memadai juga tidak akan menarik minat dan perhatian masyarakat.

Keterpaduan estetika dan etika dalam Minangkabau dapat dipahami melalui konsep “raso jo pareso” yang merupakan salah satu konsep kunci dalam filsafat Minangkabau. Raso mengacu pada kepekaan estetika dan emosional,sementara pareso mengacu pada kemampuan untuk mempertimbangkan dan menilai sesuatu berdasarkan akal dan norma yang berlaku. Hal ini menunjukkan bahwa estetika dalam budaya Minangkabau tidak bersifat individual,tetapi sosial dan berlandaskan etika bersama.

Rasa malu dalam konteks budaya Minangkabau merupakan bennteng moral yang melindungi seseorang dari perilaku yang tidak terpuji. Modernisasi dan globalisasi telah membawa Perubahan besar dalam selera estetika masyarakat,terutama generasi muda.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH