Di zaman perkembangan teknologi dan kemajuan kehidupan sosial saat ini, kepedulian terhadap sesama seharusnya semakin meningkat. Namun, kenyataan yang terjadi justru menunjukkan bahwa perhatian masyarakat terhadap panti asuhan dan anak-anak yatim cenderung mengalami penurunan. Kesibukan dalam mengejar kebutuhan hidup, perubahan gaya hidup yang semakin individualistis, serta dominasi media sosial dalam kehidupan sehari-hari membuat sebagian masyarakat kurang memperhatikan kondisi mereka yang membutuhkan bantuan dan kasih sayang.
Panti asuhan merupakan lembaga sosial yang berfungsi memberikan perlindungan, pendidikan, dan kebutuhan hidup bagi anak-anak yang kehilangan orang tua atau berasal dari keluarga yang tidak mampu. Keberadaan panti asuhan memiliki peran penting dalam membentuk masa depan anak-anak tersebut agar tetap dapat tumbuh dan berkembang secara layak. Namun, tidak semua panti asuhan memperoleh dukungan yang memadai dari masyarakat. Banyak panti asuhan yang masih mengalami keterbatasan dana, fasilitas, bahkan tenaga pendamping yang dapat membantu proses pendidikan dan pembinaan anak-anak di dalamnya.
Fenomena ini cukup memprihatinkan jika dikaitkan dengan kondisi sosial saat ini. Di era digital, masyarakat lebih mudah mengetahui berbagai informasi melalui internet dan media sosial. Akan tetapi, kemudahan akses informasi tersebut tidak selalu diiringi dengan peningkatan kepedulian sosial. Banyak orang lebih tertarik mengikuti tren hiburan, gaya hidup, atau aktivitas pribadi dibandingkan memperhatikan persoalan sosial yang ada di sekitar mereka. Akibatnya, keberadaan panti asuhan dan anak yatim sering kali hanya mendapat perhatian pada momen-momen tertentu, seperti bulan Ramadan atau saat kegiatan amal berlangsung, sementara kebutuhan mereka berlangsung sepanjang tahun.
Selain faktor individualisme, kondisi ekonomi juga menjadi salah satu penyebab berkurangnya perhatian masyarakat terhadap panti asuhan. Meningkatnya biaya hidup membuat banyak orang lebih fokus memenuhi kebutuhan keluarga masing-masing. Walaupun alasan tersebut dapat dipahami, hal ini tidak seharusnya menjadi penghalang untuk menunjukkan kepedulian kepada sesama. Bantuan yang diberikan tidak selalu harus berupa uang dalam jumlah besar. Perhatian, waktu, tenaga, maupun dukungan moral juga memiliki nilai yang sangat berarti bagi anak-anak yatim yang tinggal di panti asuhan.
Kurangnya perhatian terhadap anak yatim tidak hanya berdampak pada pemenuhan kebutuhan materi mereka, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan sosial. Anak-anak yang tumbuh tanpa dukungan dan perhatian yang cukup berisiko mengalami rasa kesepian, kurang percaya diri, serta kesulitan dalam mengembangkan potensi diri. Oleh karena itu, masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk turut menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang mereka. Kehadiran masyarakat melalui kunjungan, kegiatan sosial, atau program pembinaan dapat memberikan semangat dan motivasi bagi anak-anak tersebut untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Ada banyak upaya yang dilakukan pemerintah dan pengurus panti asuhan untuk anak-anak yang sekolah tapi ia tinggal di panti asuhan mulai dari pendidikan gratis bagi anak panti asuhan, serta beayasiswa supaya anak tersebut sampai jenjang perguruan tinggi.
Apa lagi mereka yang tidak punya ayah dan ibu, itu harus lebih di perhatikan karena mereka sangat butuh yang namanya kasih sayang orang tua, kata Hasan Basri, salah satu pimpinan panti asuhan di Kota Padang.
Menurutnya, keberadaan anak yatim dan fakir miskin merupakan program Allah SWT sejak diciptakan manusia dan peradabannya di atas dunia, hingga akhir dunia ini tak pernah lepas dari anak yatim dan fakir miskin.untuk itulah keberadaan orang-orang kaya dan mampu sebagai penyeibang kehidupan.
Hasan Basri menyebut dalam program pendidikan bagi anak panti asuhan sejak 2013 sampai- sekarang pihaknya mendapat bantuan dari pemerintah pusat, melalui Dinas Pendidikan Kota Padang yang sifatnya sekolah dialolasikan untuk merehab ruangan yang kini dijadikan ruang baru untuk SMA Darul Ma’arif.







