Dari sini terlihat kalau musik tradisional tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal seperti ini yang kadang tidak disadari oleh generasi sekarang karena lebih sering mendengar musik modern dibanding musik tradisional daerah sendiri.
Selain itu, memainkan saluang juga tidak mudah. Pemain harus pandai mengatur napas supaya bunyi saluang tetap sambung tanpa putus. Orang yang sudah ahli biasanya belajar cukup lama untuk bisa memainkan alat musik tersebut dengan baik. Jadi bisa dibilang kemampuan memainkan saluang memang membutuhkan latihan dan kesabaran.
Sekarang Saluang Sirompak memang sudah jarang ditemukan. Banyak masyarakat yang tidak lagi menjalankan ritual aslinya karena dianggap tidak sesuai dengan kehidupan sekarang. Selain itu pengaruh agama dan perkembangan zaman juga membuat kepercayaan terhadap hal-hal mistis mulai berkurang.
Walaupun begitu, beberapa seniman dan budayawan di Payakumbuh masih berusaha mempertahankan Saluang Sirompak sebagai bagian dari budaya daerah. Biasanya tradisi ini diperkenalkan lewat festival seni atau acara budaya. Unsur mistisnya tidak lagi terlalu ditampilkan, tetapi lebih fokus pada sisi sejarah dan nilai budayanya saja supaya generasi muda tetap mengenal tradisi tersebut.
Menurut saya, usaha seperti itu memang penting dilakukan. Kalau budaya daerah tidak dijaga, lama-lama bisa hilang begitu saja. Padahal belum tentu daerah lain memiliki tradisi seperti Saluang Sirompak.
Dari Saluang Sirompak kita bisa melihat bahwa musik tradisional dulu bukan hanya sekadar hiburan. Musik juga menjadi cara masyarakat menyampaikan rasa sedih, kecewa, dan berbagai perasaan lain yang sulit diungkapkan secara langsung.
Sekarang tradisi ini memang sudah mulai jarang ditemukan. Namun menurut saya, Saluang Sirompak tetap penting untuk dikenal sebagai bagian dari budaya daerah. Setidaknya generasi muda masih tahu bahwa Minangkabau punya tradisi unik yang menjadi bagian dari cerita masyarakat zaman dulu. (***)







