KALAU mendengar kata saluang, kebanyakan orang pasti langsung teringat dengan alat musik tradisional Minangkabau yang sering dimainkan untuk mengiringi dendang. Tapi ternyata ada juga jenis saluang yang punya cerita berbeda dan cukup menyeramkan, yaitu Saluang Sirompak. Saya sendiri awalnya baru tahu tentang tradisi ini dari cerita orang tua di kampung. Katanya, dulu Saluang Sirompak bukan cuma dimainkan untuk hiburan, tetapi juga dipakai dalam ritual tertentu yang berhubungan dengan rasa sakit hati dan dendam seseorang. Karena cerita itulah tradisi ini masih sering membuat orang penasaran sampai sekarang, terutama anak muda yang baru mendengarnya pertama kali.
Saluang Sirompak berasal dari daerah Payakumbuh dan Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Masyarakat dulu percaya bahwa bunyi saluang tertentu bisa memengaruhi perasaan orang lain. Kata “sirompak” sendiri katanya berasal dari kata “rompak” yang berarti mengacaukan pikiran seseorang. Jadi tidak heran kalau tradisi ini sering dikaitkan dengan hal mistis.
Biasanya Saluang Sirompak dimainkan oleh seseorang yang dianggap punya kemampuan khusus. Orang itu dipercaya mampu membaca mantra sambil memainkan saluang. Makanya masyarakat zaman dulu cukup segan dengan pemain Saluang Sirompak karena dianggap memiliki kemampuan yang tidak dimiliki orang biasa.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Saluang Sirompak biasanya digunakan oleh seseorang yang kecewa karena cintanya ditolak. Misalnya ada laki-laki yang sakit hati karena tidak diterima oleh perempuan yang dia sukai. Karena merasa kecewa, dia meminta bantuan kepada orang yang bisa memainkan Saluang Sirompak. Nantinya saluang dimainkan sambil membaca mantra tertentu dengan tujuan supaya orang yang dituju merasa gelisah atau tidak tenang.
Kalau didengar sekarang memang terdengar aneh, tapi masyarakat zaman dulu memang masih percaya dengan hal-hal seperti itu. Kepercayaan terhadap unsur gaib masih sangat kuat pada masa tersebut sehingga tradisi seperti ini dianggap hal biasa.
Pemain saluang biasanya juga mendendangkan lagu dengan nada sedih. Isi dendangnya banyak bercerita tentang rasa kecewa, sakit hati, atau kemarahan seseorang. Karena itu orang yang mendengar Saluang Sirompak sering ikut terbawa suasana. Bahkan ada yang mengatakan kalau bunyinya bisa membuat bulu kuduk merinding, walaupun mungkin itu hanya karena pengaruh cerita yang sudah berkembang sejak lama.
Selain bunyi saluangnya yang khas, ritual Saluang Sirompak dulu juga mempunyai beberapa aturan tertentu. Katanya bambu untuk membuat saluang tidak boleh diambil sembarangan. Ada waktu khusus dan tempat tertentu yang dipercaya lebih bagus untuk mengambil bambu tersebut. Setelah itu saluang dibuat dan dimainkan oleh orang yang memang dipercaya memiliki kemampuan khusus.
Kadang ritualnya juga memakai perlengkapan lain seperti kemenyan. Hal seperti inilah yang membuat masyarakat semakin percaya bahwa Saluang Sirompak memang berhubungan dengan hal mistis. Walaupun begitu, sekarang sebagian besar masyarakat sudah menganggap cerita tersebut sebagai bagian dari budaya lama, bukan sesuatu yang benar-benar harus dipercaya.
Menurut saya, yang menarik dari Saluang Sirompak sebenarnya bukan cuma cerita mistisnya. Tradisi ini menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau dulu menggunakan seni untuk menyampaikan perasaan mereka. Dulu mungkin orang tidak terlalu terbuka untuk bicara langsung tentang rasa kecewa atau sakit hati. Jadi perasaan itu disampaikan lewat dendang dan bunyi saluang.







