IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Makna Peribahasa, Labiah Manusia Karano Aka, Labiah Buruang Karano Sayok

Foto Rahmina Putri
Ilustrasi Makna Peribahasa, Labiah Manusia Karano Aka, Labiah Buruang Karano Sayok
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Kenapa burung menjadi perbandingan dalam peribahasa ini? Hal ini terjadi karena burung merupakan salah satu makhluk hidup yang kelebihannya itu terlihat jelas pada sayap. Tanpa sayap, burung tidak akan pernah bisa terbang, dan jika tidak terbang, maka burung akan kesulitan dalam bertahan hidup.

Sayap adalah alat utama bagi burung untuk mencari makan, melindungi diri dari marabahaya, dan bahkan juga untuk mempertahankan esksistentinya di alam. Ini mengajarkan bahwa setiap makhluk hidup itu memiliki fitrahnya masing-masing. Burung tidak bisa berfilsafat atau berfikir seperti manusia, tetapi ia bisa terbang. Manusia tidak bisa terbang, tetapi ia bisa berpikir dan menciptakan sesuatu, maka dari itu tidak boleh membandingkan antara makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya.

Peribahasa ini bukan hanya berbicara tentang keunggulan manusia secara individual, tapi juga sangat erat kaitannya dengan nilai sosial dan Pendidikan dalam budaya Minangkabau. Dalam tradisi Minang, seseorang yang dihormati adalah orang yang bijaksana, dan mampu berfikir lebih jauh kedepan, bukan hanya sekedar pintar dalam dunia akademik saja tapi juga dalam sosial memahami situasi dan adat. Pendidikan tradisional di Minangkabau mengajarkan bahwa ilmu harus disertai dengan akal dan budi. Akal menjadi ukuran utama untuk menilai kualitas seseorang.

Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di zaman era digital seperti saat sekarang ini, peribahasa terasa makin relevan. Dalam berbagai situasi yang terjadi pada masa sekarang ini, akal menjadi filter yang sangat penting agar kita tidak mudah terbawa arus dalam menyikapinya. Kecanggihan yang ada tidak akan membuat manusia menjadi unggul jika tidak diimbangi dengan penggunaan akal sehat dan budi pekerti yang baik. Maka dari itu sangat penting bagi kita menyeimbangkan antara kecerdasan intelektual dengan kebijaksanaan dalam bertindak.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Peribahasa “Labiah manusia karano aka, labiah buruang karano sayok” sebagai pengingat bahwa akal adalah inti dari martabat manusia. Tanpa akal, manusia bukan saja kehilangan arah, tapi juga kehilangan nilai. Sayap bagi buruang adalah alat untuk bertahan hidup, akal bagi manusia sebagai alat untuk menjaga martabat dan menjalankan tanggung jawab sosial.

Di zaman seperti sekarang ini, peribahasa tersebut menjadi Kompas moral yang sangat dibutuhkan. Jadi kita sebagai mahasiswa, sangat penting untuk terus mengasah akal, dan bukan hanya melalui Pendidikan formal, tapi juga lewat berbagai refleksi, diskusi kritis dan kepekaan sosial, walaupun sudah memiliki banyak teknologi yang canggih.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita sebagai manusia menggunakan akal dalam menjalani kehidupan, bergaul, dan memberikan manfaat juga bagi orang lain, sebab sejatinya manusia itu bukan hanya yang tahu saja, tapi juga yang mampu menimbang dan bertindak dengan bijak dalam menjalani kehidupan. (***)

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH