"Dengan kejadian ini jangan tinggalkan Papua, semua orang asal Sumbar di Tanah Papua tidak boleh pergi," ujarnya.
Gubernur Enembe meminta agar masyarakat di Wamena dan sekitarnya yang terdampak kerusuhan pada Senin, 23 September 2019 untuk kembali membangun usaha mereka.
"Bangun kembali toko agar ekonomi di Papua bisa tumbuh kembali," ujarnya.
Ia juga memohon dukungan doa dari masyarakat Sumatra Barat agar Papua, terutama Wamena kembali pulih setelah kejadian.
Enembe menyampaikan agar tetap menjaga Indonesia dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) dengan menjaga perbedaan, tapi tetap bersatu.
Konsepnya selama ini, kata Enembe, adalah menembus perbedaan. Tidak ada ruang antara masyaraat Papua dari Sumatra Barat dengan yang di Papua.
Gubernur Lukas Enembe memastikan bahwa Pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya akan membangun kembali seluruh bangunan yang rusak akibat kerusuhan di Wamena, termasuk toko dan rumah milik perantau Minang.
Namun proses pendanaan rekonstukri menyesuaikan dengan prosedur anggaran yang kemungkinan baru bisa untuk tahun depan.
Ia mengatakan, pemulangan jenazah 8 korban meninggal ke Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatra Barat telah ditanggung Pemkab Jayawijaya. Para pengungsi di Sentani, Kabupaten Jayapura dan di Wamena diurus oleh Pemprov Papua.
Editor :






