IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Tradisi Tupai Janjang di Nagari Tigo Koto Silungkang Palembayan Agam

Foto NURHAYASI
Ilustrasi Tradisi Tupai Janjang di Nagari Tigo Koto Silungkang Palembayan Agam
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan tradisi daerah. Setiap daerah memiliki ciri khas budaya yang diwariskan secara turun-temurun sebagai identitas masyarakatnya. Salah satu tradisi budaya yang masih dikenal hingga saat ini adalah Tradisi Tupai Janjang yang berasal dari Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Tradisi ini merupakan bentuk sastra lisan Minangkabau yang menggabungkan seni bercerita, gerak tari, dialog, dan unsur hiburan rakyat. Tradisi tersebut tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga mengandung pesan moral, nilai sosial, dan pendidikan bagi masyarakat.

Di tengah perkembangan zaman saat dan kemajuan teknologi, keberadaan tradisi lokal mulai mengalami tantangan. Generasi muda cenderung lebih tertarik pada budaya modern dibandingkan budaya tradisional. Kondisi ini menyebabkan beberapa kesenian daerah mulai terlupakan bahkan terancam punah. Oleh sebab itu, pelestarian budaya lokal menjadi hal yang sangat penting agar warisan budaya tetap hidup dan dikenal oleh generasi selanjutnya.

Salah satu yang terancam adalah kesenian Tupai Janjang, sebuah tradisi Bakaba (bercerita) yang berasal dari Silungkang, Nagari Tigo Koto Silungkang, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam .Tradisi yang hampir punah di nagari yang asri ini memiliki makna besar dalam kehidupan dan telah mendapat apresiasi hingga tingkat internasional pada tahun 2023, Keberadaan tradisi ini membedakan daerah tersebut dengan daerah lain serta menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Bahkan, kesenian Tupai Janjang telah masuk dalam daftar Warisan Budaya Tak Benda Indonesia tahun 2023.

Maestro Palembayan, Amril Sutan Caniago menceritakan bahwa kesenian ini mengisahkan Puti Silinduang Bulan dan Datuk Bandaro yang tinggal di Kampung Pakudoran dilansir dari Dinas Kebudayaan Sumbar.Meski telah 10 tahun menikah, mereka belum kunjung memiliki anak.Suatu hari, mereka melakukan perjalanan menuju ladang kopi di daerah Tabek Talao. Perjalanan panjang tersebut melewati Lumbuak Batu, Kampung Pinang, Kampung Lansek, hingga menuju Gunung Sago dan tiba di Kayu Ampek.

Di kebun tersebut, Puti Silinduang Bulan melihat seekor tupai yang melompat di atas kayu.Datuak, apa nama binatang itu? tanya Puti Silinduang Bulan.Karena Datuk Bandaro tidak mengetahui namanya, ia bertanya kepada Bujang Salamaik.Wahai Datuak Bandaro, binatang itu bernama tupai janjang, saya bermain setiap hari dan hal itu menyenangkan, jawab Bujang Salamaik.Mendengar hal itu, Puti Silinduang Bulan berkata kepada suaminya.Datuak Bandaro, kalau kita mendapatkan anak seperti tupai janjang, betapa senangnya hati kita, katanya.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Niat kita sama, jika seperti itu marilah kita pulang dan menuju musala Inyiak, kata Datuak yang ditirukan oleh Amril Sutan.Perkembangan dan Ciri Khas Pertunjukan Pada awalnya, Tupai Janjang berkembang dari kebiasaan mendongeng orang tua kepada anak cucu sebagai media pendidikan moral.

Menurut Gayatri (dalam Efendi, 2011:103), kesenian ini dulunya merupakan bagian dari pertunjukan Randai yang ditampilkan saat waktu istirahat.Kini, Tupai Janjang telah menjadi pertunjukan mandiri dengan ciri khas sebagai berikut:Penutur Tunggal ,Setiap tokoh diperankan dengan gerakan tubuh menyerupai seni bela diri silat Minangkabau. Penutur menyanyikan nyanyian khas sebagai pengantar atau penggambaran suasana. Cerita diwariskan dari mulut ke mulut tanpa naskah tertulis.

Tradisi tupai janjang ini biasanya ditampilakan pada malam hari dihalaman rumah tempat terbuka,atau seperti pernikahan alek nagari,festifal budaya, Kehadiran masyarakat dalam pertunjukan menunjukkan bahwa Tupai Janjang memiliki fungsi sosial sebagai sarana hiburan sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat,agar terjalin hubungan yang harmonis dalam suatu daerah tersebut.

Tradisi Tupai Janjang mengandung berbagai nilai budaya yang penting dalam kehidupan masyarakat Minangkabau. Salah satu nilai yang terkandung adalah nilai moral. Cerita yang disampaikan mengajarkan masyarakat, terutama anak-anak, agar memiliki perilaku baik, menghormati orang lain, dan menjaga hubungan sosial.Selain itu, tradisi ini juga mengandung nilai pendidikan.

Melalui cerita dan dialog yang dibawakan, masyarakat dapat memahami nasihat kehidupan dengan cara yang menarik dan mudah dipahami. Seni bertutur dalam Tupai Janjang juga menjadi media penyampaian adat dan norma masyarakat Minangkabau.Nilai sosial juga tampak dalam pelaksanaan pertunjukan. Masyarakat berkumpul bersama untuk menyaksikan pertunjukan sehingga tercipta rasa kebersamaan dan solidaritas. Dalam budaya Minangkabau, kebersamaan merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH