Risiko tersebut bukan berarti tidak membuatnya takut. Setiap kali membawa muatan, Nopi menyadari bahwa pekerjaan yang dilakukannya memiliki bahaya tersendiri. Namun, kebutuhan hidup membuatnya harus tetap bekerja.
Bagi Nopi, menjadi tukang panen dan pelansir sawit adalah cara untuk mendapatkan penghasilan. Dari pekerjaan itu ia memenuhi kebutuhan sehari-hari dan menghidupi keluarganya.
Pekerjaan tersebut juga menuntut tenaga yang besar. Setelah berjam-jam memanen, ia masih harus mengangkut buah sawit melewati medan yang berat. Panas matahari, hujan, lumpur dan jalan rusak menjadi bagian dari kesehariannya.
Ketika musim hujan tiba, tantangan menjadi semakin berat. Jalan yang sebelumnya masih bisa dilewati berubah menjadi licin dan berlumpur. Beban sawit yang berat membuat perjalanan semakin sulit.
Namun, kondisi itu tidak membuat Nopi meninggalkan pekerjaannya. Ia tahu, setiap tandan sawit yang berhasil dibawa keluar dari kebun berarti ada penghasilan yang bisa dibawa pulang. Tidak besar, tetapi cukup untuk membuatnya terus bertahan.
Motor rakitan yang digunakannya bukan sekadar alat transportasi. Kendaraan sederhana itu menjadi bagian penting dari perjuangan Nopi. Dengan motor tersebut, ia menaklukkan jalan yang bagi sebagian orang mungkin tidak sanggup dilalui.
Menjelang sore, perjalanan Nopi belum benar-benar selesai. Satu per satu tandan sawit terus dibawa keluar. Lumpur masih menempel di ban dan bodi motor. Keringat membasahi tubuhnya, sementara jalan ekstrem masih terbentang di depan.
Di tengah jalan kebun yang penuh lumpur dan tanjakan, Nopi menemukan satu hal yang selalu membuatnya kembali ke sana setiap pagi: harapan bahwa dari setiap tandan sawit yang dibawanya pulang, ada rezeki untuk keluarganya. (d)
Editor : Ade MS






