“Salah satu kebaruan yang ditawarkan adalah perumusan jeda dramatik sebagai strategi dramaturgis yang berakar pada tubuh matrilineal. Jeda tidak dipahami sebagai kekosongan, melainkan sebagai tindakan performatif, yakni cara tubuh mengelola waktu, kuasa, dan relasi sosial melalui penundaan, keheningan, dan ketahanan,” kata sosok yang akrab disapa Tintun ini.
Secara artistik, tambah perempuan sutradara teater di Indonesia, pertunjukan Jual Bual menawarkan model penciptaan teater yang cair, improvisatif, dan berakar pada praktik sosial rakyat. Dan secara akademik, disertasi ini memperluas wacana teater Indonesia dengan menghadirkan dramaturgi kurenah sebagai paradigma lokal yang mampu berdialog dengan teori global.
Dengan menjadikan praktik pedagang obat kaki lima sebagai basis penciptaan, teater Jual Bual menegaskan teater sebagai ruang perjumpaan antara seni, publik, dan realitas sosial, yaitu sebuah praktik artistik yang bekerja melalui risiko, kehadiran tubuh, dan penundaan makna.*







