“Kalau saya bisa bantu keluarga dan tetap latihan, itu sudah cukup. Emas ini bukan hanya buat saya, tapi buat mereka juga,” katanya pelan.
Kini Yusril masih tetap sederhana. Dia akan tetap membantu keluarga, dan menabung untuk masa depan adik-adiknya serta ayah tirinya.
Ia bermimpi suatu hari nanti bisa membuka tempat latihan bagi anak-anak kampungnya agar mereka juga punya jalan keluar melalui olahraga.
Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten
“Mimpi itu gratis,” ucapnya, “Tapi perjuangan mahal. Saya sudah bayar dengan keringat.”Di matras, Yusril adalah petarung. Di rumah, ia adalah tulang punggung. Dan di hati banyak orang, ia adalah bukti bahwa emas bisa lahir dari tangan yang terbiasa bekerja keras—dari kampung, dari kayu, dari kelapa, dan dari niat yang tak pernah padam. (R/BM)
Editor : Marjeni Rokcalva






