Namun alih-alih menghindar, sang Wali Kota justru menjadikan kritik sebagai peluang memperbaiki arah pembangunan.
Dalam orasi yang lantang, mahasiswa menyoroti keberadaan tempat hiburan malam yang dinilai tak tersentuh hukum. Parahnya, mereka menyebut ada THM yang kembali buka setelah dirazia dan disegel.
"Penutupan THM seperti sandiwara. Setelah petugas pergi, mereka buka lagi. Bahkan kami temukan yang beroperasi hingga pukul 3 subuh," teriak salah seorang orator.
Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten
Lebih jauh, mahasiswa juga melaporkan adanya dugaan praktik LGBT di sejumlah kafe yang dinilai mencederai nilai-nilai masyarakat Minangkabau."Kami temukan indikasi kuat, termasuk pelecehan di Jalan Jeruk. Kota ini butuh ketegasan!" seru mereka.
Editor : Medio Agusta






