TAHUN 1980an ada dua orang mahasiswa Fakultas Keguruan Teknik (FKT) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang yang menyandang predikat tukang. Yang pertama, bernama Yurpino , asal dari Kapau, tinggi kurus rambut keriting, ramah dengan dan berbicara selalu menggunakan logat Kapau yang kental. Orangnya baik dan polos. Dialah tukang kayu yang jadi mahasiswa. Tinggal di Air Tawar Barat, kediaman bernama wisma Nevos, halaman samping dari tanah kost agak luas, disanalah di rangkaian kayu untuk membuat meja kerjanya yang berukuran 1 x 4 meter dengan tinggi 60 cm.
Termasuk top dan banyak pesanan pada waktu itu. Kalau lagi bekerja mengetam kayu ataupun menggergaji, hampir selalu berbusana alami, mengandalkan kulitnya yang tipis untuk diserang sinar matahari, sehingga hampir setiap bekerja , badan dan wajahnya selalu basah oleh keringat. Kadang , tidak disadarinya, ada tetesan keringat yang melewati bibirnya yang setengah terbuka, dialah yang mengeluarkan pernyataan bahwa keringat yang keluar dari Air Tawar ternyata lebih memiliki rasa lebih asin. Yurpino tamat, digantikan oleh tukang yang kedua.
Mengalami proses dan keadaan yang sama , sama sama merasakan asinnya keringat di Air Tawar, dialah pengganti dari Yurpino , namanya Zarwan Lubis. Biasanya yang bermarga Lubis tentu berasal dari daerah Pasaman.
4 tahun lebih muda dari Yurpino, tapi semangatnya melebihi kakak tingkatnya ini. Sejak dari awal sudah bersekolah di sekolah teknik yang tidak ada siswa wanitanya. Mulai dari Sekolah Teknik ST dikampungnya sendiri , berbeda dengan kawan sekampungnya, berbekal untuk maju, berangkat ke Padang untuk melanjutkan pendidikan ya di STM Negeri 2 Padang, berhasil diterima sebagai siswa STM Negeri 2 di Padang , sesuatu yang keren untuk ukuran kampungnya pada saat itu.
Dengan modal semangat dan tekat, meninggalkan STM Negeri 2 Padang dengan bekal ijazah, berharap lagi untuk lebih maju, mendaftarkan diri untuk kuliah di FKT IKIP Padang , tentu jurusan yang dipilih adalah Bangunan.
Tidak ada serah terima kelanjutan dari kerja tukang Yurpino kepadanya , terjadi begitu saja, dengan latar belakang jurusan Bangunan, maka pengetahuannya mengenai cara pengolahan bahan setengah jadi jadi bahan jadi mulai terbentuk. Secara tradisional, dia memiliki peralatan yang cukup untuk meneruskan hobbynya mengolah kayu.
Ia adalah seorang yang berpengetahuan terandalkan untuk masalah kayu. Dengan hanya meraba sebatang kayu, dia sudah memiliki penafsiran, berapa umur kayu, tingkat kekerasan, kadar air yang terkandung, tingkat kekeringan, pengolahan kayu berdasarkan bentuk / pola serat kayu, tingkat kelenturan serta bagaimana cara pengerjaan yang cocok untuk kayu itu, termasuk juga harga jual perlembar , perbatang ataupun perkubik, semuanya dikuasainya dengan penuh keyakinan.
Peralatan pun lumayan lengkap , segala jenis ketam dan pahat tersusun rapi di kotak perkakasnya.
Sebulan kuliah, ia mulai membeli beberapa batang kayu untuk diolahnya, untuk digunakan sendiri, melengkapi peralatan dikamarnya kost nya. Meja kursi disertai lemari semuanya dikerjakan sendiri .Semuanya dikerjakan dengan tingkat ketelitian dan standar kerja yang tinggi. Hasilnya, meja kursi serta tempat tidur beserta lemari membuat orang tertarik untuk memilikinya, tawaran itu ditolaknya, karena dia ingin hasil karyanya ini jadi saksi awal perjuangannya.
Editor : Marjeni Rokcalva






