Meski demikian, ia tetap konsisten membuka usaha setiap hari dari jam 9 pagi setelah melakukan kegiatan di ladang, hingga tutup pukul setengah 6 sore. Kedai sederhana tanpa nama itu, menjadi saksi perjuangannya menjaga tradisi.
“Kalau tidak membuat tarompa, saya justru merasa jenuh. Karena ini sudah menjadi bahagian dari hari-hari saya,” katanya sambil tersenyum.
Arlen bercerita, pernah mendapatkan bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), yang membantunya memulai usaha sendiri setelah bekerja dengan orang lain di Silaing selama 15 tahun.
Arlen memiliki tiga anak perempuan. Meski belum sepenuhnya terjun dalam usaha ini, ia optimis tradisi ini akan mereka teruskan suatu saat nanti.
Meski tak memiliki nama tempat usaha, pelanggan dari berbagai daerah, seperti Batam, Bukittinggi, hingga Pulau Jawa, tetap datang langsung untuk memesan karya Arlen. Sandalnya dijual seharga Rp200.000 hingga Rp250.000, tergantung jenis dan tingkat kesulitannya. (Nur Azizah)
Editor : Marjeni Rokcalva






