IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Jejak Perjuangan Harun Zain: Putera Pariaman Menghadang Agresi, Membela Negara

Jejak Perjuangan Harun Zain: Putera Pariaman Menghadang Agresi, Membela Negara
Jejak Perjuangan Harun Zain: Putera Pariaman Menghadang Agresi, Membela Negara
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Mr. H. Sutan Muhammad Rasjid adalah Residen Sumatera Barat (20 Juli 1946-29 April 1947) sesudah Muhammad Djamil, kedua residen ini sama-sama orang Piaman laweh. Pada saat Agressors Milter Belanda II yang menyerang Bukittinggi sebagai benteng Republik Indonesia, Mr. Sutan Muhammad Rasjid adalah Gubernur Militer Sumatera Barat (2 Januari 1949-Mei 1949), Gubernur Militer Sumatera Tengah (Mei 1949-Oktober 1949), sekaligus Menteri Perburuhan dan Sosial dalam Kabinet Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (Mestika Zed, 1997:206). Pemerintahan darurat atau PDRI inilah yang kemudian berhasil menjadi penyelamat Republik Indonesia dari keinginan Belanda menghapuskan Republik Indonesia merdeka.

Prof. Sutan Muhammad Zain adalah putera Pariaman yang berhasil melanjutkan kuliah ke Rijks Universiteit Leiden di negeri Belanda. Ia menjadi pribumi Indonesia yang pertama meraih gelar Middlebare Onderwijs untuk Maleische Taal pada tahun 1927. Selanjutnya beliau diangkat menjadi asisten Profesor di Recht Hoogeschool Universiteit Leiden (Abrar Yusra, 1997:6). Bahkan Sutan Muhammad Zain berhasil meraih gelar Professor dari Universiteit Leiden dalam bidang bahasa Melayu, yang menjadi cikal-bakal bahasa Indonesia. Setelah pulang dari Belanda tahun 1927, ia mengajar di RHS Batavia sebuah Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta dan PHS Batavia. Bung Hatta pernah belajar di PHS Batavia, tidak diketahui apakah Bung Hatta pernah menjadi murid Sutan Muhammad Zain (Abrar Yusra, 1997:8). Salah seorang murid Sutan Muhammad Zain adalah Zuber Usman, yang pernah menjadi dosen PTPG Batusangkar, UNP sekarang (Abrar Yusra, 1997:7 dan Buchari Nurdin, 1979). Dimasa pergerakan kemerdekaan Indonesia, Sutan Muhammad Zain menjadi penasehat Jong Sumatranen Bond (JSB) bersama dengan Haji Agus Salim, Abdul Muis, dan Lanjumin Datuak Tumanggung. Pada tahun 1920, Bung Hatta dan Amir berkonsultasi kepada penasehat JSB sebelum Bung Hatta menyusun pengurus baru JSB (Abrar Yusra, 1997:5).

Sutan Muhammad Zain beristrikan Siti Murin, gadis sekampung dengannya. Pasangan ini melahirkan tujuh orang anak, yang kita kenal sebagai pejuang kemerdekaan mengikuti jejak sang Ayah. Anak tersebut adalah Dr. Sutan Zairin Zain, tokoh pejuang kebangsaan yang kemudian menjadi Duta Besar RI di Jerman Barat dan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh RI untuk Amerika Serikat. Bahkan Dr. Zairin Zain adalah diplomat urang awak kebanggaan Soekarno (https://niadilova.wordpress.com/2014/03/17/minang-saisuak-167-dr-zairin-zain-diplomat-urang-awak-kebanggaan-sukarno). Sutan Basir Zain, Sutan Aziz Zain, Sutan Rustam Zain (Pembentuk Laskar Pemuda Republik Indonesia sebelum terbentuknya BKR yang kemudian berubah menjadi TKR, TRI, dan TNI di Surabaya). Laskar Pemuda Republik ini berjuang mempertahankan Kemerdekaan Indonesia dari Agresi Militer Belanda I dan II di Surabaya (Abrar Yusra, 1997:36-39). Drg. Siti Yanuar Zain (menjadi anggota DPR-RI dan aktivis perempuan Indonesia), Prof. Dr (HC). Drs. H. Harun Zain Datuak Sinaro, dan Maliksyah Zain.

Harun Zain lahir di Jakarta, 1 Maret 1927. Waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda. Beliau berasal dari keluarga perantau Minangkabau golongan "kerah putih", meminjam istilah Dr. Suryadi. Kedua orang tua Harun Zain berasal dari Pariaman. Dalam buku Asal-usul Elit Minangkabau Modern yang ditulis oleh Elizabet E. Graves (1977) disebutkan bahwa terdapat tiga orang murid Sekolah Rajo Bukittinggi (Kweekschool) yang berasal dari Pariaman. Ketinganya adalah Baginda Dahlan Abdullah, Sutan Muhammad Zain, dan satu lagi dari Pedagang Kaya Raya dari kalangan orang biasa.

Harun Zain kita kenal baik dalam sejarah kepemimpinan Sumatera Barat dan nasional karena berhasil menggelorakan semangat mambangkik batang tarandam, mambangun kampung halaman bagi orang Minangkabau. Beliau meniti karir sejak dari masih menjadi Siswa Sekolah Menengah Tinggi Surabaya yakni menjadi Tentara Pelajar di Jawa Timur hingga menjadi TRIP. Harun Zain kemudian kuliah di UI. Setelah tamat, Harun Zain menjadi dosen UI yang ditugaskan mengajar di UNAND Padang dan UNSRI Palembang. Tidak beberapa tahun setelah itu, Harun Zain ditunjuk menjadi Rektor UNAND (1964-1968) sekaligus jadi Gubernur Sumatera Barat (1966-1971). Umur beliau saat menjadi Rektor 37 tahun, saat menjadi Gubernur 39 Tahun, suatu umur yang sangat muda untuk ukuran waktu itu. Karena pemimpin di Minangkabau didahulukan salangkah, ditinggikan saranting. Tentu tidak mudah menjalankan amanat itu. Sukses menjalankan amanah sebagai Gubernur Sumatera Barat, Harun Zain diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi Menakertrans RI (1978-1983), Anggota Dewan Pertimbangan Agung RI (1983-1988). Terakhir Harun Zain menjadi Anggota MPR-RI (1988-1992). Disamping itu Harun Zain berperan aktif dalam mendirikan Gebu Minang dan kegiatan sosial, budaya, dan kemasyarakat yang jejaknya masih bisa kita lacak sampai saat ini.

Jika ditilik lebih dalam lagi, jejak Harun Zain ada dalam peristiwa perjuangan Arek-arek Suroboyo 10 November 1945 yang ditetapkan sebagai hari Pahlawan Nasional Indonesia dan diperingati setiap tahunnya. Perjuangan Harun Zain mempertahakan kemerdekaan Indonesia menghadang Agresi Militer Belanda I (1946) dan Agresi Militer Belanda II (1948-1949) yang me-door stadde Jogjakarta, Bukittinggi, Lubuk Linggau, dan semua kota-kota besar Indonesia. Karena waktu itu Belanda berada di pihak Sekutu. Sekutu adalah pemenang Perang Dunia II, sehingga Belanda ingin kembali menguasai Indonesia, daerah jajahannya dahulu. Padahal Indonesia telah merdeka.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Pada tanggal 10 November 1945, para pejuang kemerdekaan Indonesia termasuk Pasukan TK Pelajar (TRIP) melibatkan diri secara aktif kedalam kancah pertempuran. Harun Zain berada dalam BKR Staf 1 yang terdiri dari Barisan Pelajar SMT Surabaya dan anggota Pasukan Pemuda Republik Indonesia Surabaya dan sekitarnya. Harun Zain dan para pejuang ini menghadapi tentara sekutu yang sudah lelah dari pertempuran Perang Dunia II. Pertempuran Surabaya ini tiga minggu lamanya secara berturut-turut, dimulai pada tanggal 10 November 1945 (Abrar Yusra, 1997:43). Hal ini dipicu oleh karena, pada tanggal 9 November 1945, Panglima Tentara Sekutu di Jawa Timur (Mayjen E.C. Mansergh) mengumumkan ultimatum dan instruksi dalam bentuk ribuan pamplet yang dijatuhkan sejumlah pesawat terbang RAF di atas kota Surabaya:

"... mereka harus bergerak mendekat dengan berbaris satu persatu dan membawa senjata yang dimiliki. Senjata-senjata itu harus diletakkan pada 100 yard dari tempat pertemuan dan kemudian semua orang Indonesia harus berjalan mendekat dengan kedua belah tangan diletakkan di atas kepala, semuanya akan ditangkap dan ditawan...."

Ultimatum dari tentara sekutu ini sangat menghina bangsa Indonesia. Pada saat serangan besar-besaran Sekutu tanggal 10 November 1945, Pasukan BKR Staf 1 (Harun Zain dalam pasukan ini) dijadikan pasukan cadangan oleh Markas Pertahanan Indonesia di Surabaya (Abrar Yusra, 1997:44). Namun para pelajar ini tidak tinggal diam, mereka terus maju ke medan tempur walaupun masih berusia pelajar. Sehingga dipihak Indonesia banyak yang gugur, diantaranya rekan-rekan Harun Zain para prajurit Staf BKR Pelajar: Dumaidiohadi, Kustarto, Syafii, Agus, Sugiyo" (Abrar Yusra, 1997:42).

Pada tahun 1946, terjadi perubahan nama TKR menjadi TRI dan TKR Pelajar menjadi TRI Pelajar (TRIP). TRIP ini terdiri dari 5.000 -- 40.000 pejuang. Komadan TRIP ini adalah Mas Isman. Taktik perang TRIP adalah perang gerilya. Pada saat agresi militer Belanda II terhadap kota Malang, gugur 35 orang TRIP oleh tentara Belanda. Untuk itu dibuat kuburan massal, jalan itu dinamakan jalan Pahlawan TRIP dan didirikan sebuah Tugu (Abrar Yusra, 1997:53). Dikemudian hari, Mas Isman menjadi tokoh militer Indonesia berpangkat Mayor Jenderal TNI. Sejak tanggal 5 November 2015, Mas Isman telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Republik Indonesia.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH