Virus ini,katanya, awalnya muncul sejak 1920 di Afrika kemudian menyebar ke Eropa, Amerika, dan terakhir ke Asia. Tahun 2019 masuk ke China, Vietnam, hingga Sumatera utara.
Adapun upaya menurunkan resiko babi terserang virus ASF diantaranya yaitu bio security yang ketat, dengan menjaga kebersihan kandang, penyemprotan disinfektan ke seluruh kandang, dan kebersihan petugas.
"Babi yang mati harus dikubur agar tidak menyebarkan virus kemana-mana. Daging babi yang suspect yang sudah dipotong tidak boleh dibagikan ke orang lain agar tidak menular ke areal lain. Tetapi jika sudah dimasak, baru bisa dibagikan ke orang," paparnya.
Virus ASF akan mati pada suhu 60celcius selama 20 menit. Upaya berikutnya yakni babi tidak boleh masuk ke area terinfeksi.
"Lalu lintas diperketat. Tunggu area tersebut steril atau habis virusnya sekira enam bulan baru kemudian beternak lagi. Jika tidak, masyarakat bisa merugi dua kali lipat karena ternaknya bisa mati lagi," terangnya.
Pada tempat yang sama, Kepala seksi karantina hewan Balai karantina pertanian kelas I Padang, Agus menyatakan bahwa pihaknya selama ini mengawasi dan memeriksa lalu lintas hewan dari Padang menuju Mentawai terutama ke Tuapeijat di pelabuhan Muara Padang, Teluk bayur, Bungus, dan Bandara Internasional Minangkabau.
(KS/Hms/Je)
Editor :






