IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Prof Harun Zain dan Prof Isrin Noerdin Saling Dukung Demi Kemajuan Kampung Halaman

Gubernur Sumatera Barat Harun Zain sedang berada di Pedesaan, tatap muka dengan ninik mamak dan masyarakat (Sumber Foto: Abrar Yusra, 1997:193).
Gubernur Sumatera Barat Harun Zain sedang berada di Pedesaan, tatap muka dengan ninik mamak dan masyarakat (Sumber Foto: Abrar Yusra, 1997:193).
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Sama halnya dengan Prof. Dr. Isjrin Noerdin, hal yang sama juga dilakukan oleh Harun Zain, beliau terus berjuang diranah pemerintahan dan kepemimpinan politik. Saat masih menjabat Rektor UNAND (1964-1968) sekaligus Gubernur Sumatera Barat (1966-1971). Bahkan pada tahun 1966, selaku Gubernur Harun Zain menjadi Ketua Panitia Persiapan Penegerian IAIN Imam Bonjol Padang yang cikal-bakal fakultas sudah ada empat fakultas. Fakultas Tarbiyah Cabang IAIN Syarifhidayaltullah Jakarta. Tiga fakultas berasal dari Yayasan Imam Bonjol yaitu Fakultas Syari'ah di Bukittinggi, Fakultas Adab di Payakumbuh, dan Fakultas Ushuluddin di Padang Panjang. Gubernur Harun Zain menyampaikan usulan ini kepada Menteri Agama RI waktu itu Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Raichul Amar, dkk, 2016).

Pada hari Selasa, 29 Nopember 1966, di Gedung Negara Tri Arga Bukittinggi, diresmikan berdirinya IAIN Imam Bonjol oleh Menteri Agama RI Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, langsung dihadiri Gubernur Harun Zain. Rektor pertama IAIN Imam Bonjol adalah Prof. Dr. H. Mahmud Yunus (Raichul Amar, dkk, 2016).

Setelah selesai mengemban amanah menjadi Gubernur Sumatera Barat, Harun Zain dipercaya oleh Presiden RI Jenderal Soeharto menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (1978-1983). Setelah itu, beliau diberi amanah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Republik Indonesia yang ketuanya adalah Jenderal (Purn). Maraden Pangabaean (1983-1988) mantan Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan periode 1978-1983. Selesai menjadi anggota DPA, Harun Zain diberi amanah menjadi anggota MPR RI (1988-1992). Pada saat menjadi anggota DPA RI (1983-1988) Harun Zain juga diminta menjadi Rektor Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta selama tiga periode (1985-1997) sekaligus Guru Besar (Profesor) dalam bidang ekonomi.

Saat menjadi Menteri, Anggota DPA, Anggota MPR-RI, dan Rektor UMB Jakarta, Harun Zain selalu membantu dan mendukung pembangunan masyarakat Sumatera Barat yang secara budaya dikenal sebagai urang Minang. Sebagai sesepuh Minang di Jakarta, Harun Zain memiliki andil yang besar dalam mendirikan organisasi Gebu Minang (Gerakan Seribu Minang) dengan sejumlah tokoh-tokoh penting Indonesia seperti Emil Salim, Azwar Anas, Hasan Basri Durin, Syahrul Udjud, Fahmi Idris, Is Anwar Datuak Rajo Perak, dan banyak lagi tokoh-tokoh Minang baik diranah maupun di rantau. Gebu Minang ini terbukti berhasil membantu dan mendorong pembangunan Sumatera Barat, membangun hubungan ranah dan rantau, dan berperan penting dalam kehidupan orang Minang diperantauan.

Gebu Minang masih eksis sampai hari ini. Selain itu Harun Zain juga menjadi Ketua III Dewan Harian Nasional (DHN) Angkatan 45. Arnold Toynbee, Sejarawan Inggris, menyebut istilah creativity minority artinya "sekelompok orang yang mampu menguasai banyak orang". Teori ini mungkin juga berlaku disini. Dikala Sumatera Barat habis dilanda peristiwa PRRI (1958-1961), sejumlah tokoh-tokoh Minang di Jakarta seperti Drs. Muhammad Hatta, Mr. Muhammad Yamin, Dr. Hasyim Ning, dll, menyarankan agar Harun Zain menjadi Gubernur Sumatera Barat.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Memang tidak mudah dan mulus dalam pengabdin Harun Zain dan Isjrin Noerdin di Sumatera Barat, tentu ada suka-duka, pahit-manis, susah-senang, riang-gembira, muda-susah, dsb, seperti yang diungkapkan Harun Zain bahwa memimpin diranah Minang lebih susah daripada memimpin dari daerah lain. Bisa jadi karena orang Minangkabau sangat bersifat dinamis dan anti-parokialisme yang ditandai dengan tradisi merantau, berjiwa merdeka, kosmopolitan, egaliter, dan berpandangan luas (Rudolf Mrazek). Ini sudah lama diungkapkan dalam pepatah Minangkabau "duduak samo randah, tagak samo tinggi", "Pemimpin di Minangkabau didahulukan selangkah, ditinggikan serantiang".

Oleh sebab itu, Gubernur Harun Zain bahkan tidak segan-segan mengunjungi tokoh-tokoh Minangkabau seperti Muhammad Hatta untuk meminta nasehat. Menemui Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Muhammad Natsir menasehati Harun Zain agar "pandai-pandailah merangkuh dayung" dalam memimpin Sumatera Barat. Nasehat inilah yang menjadi bekal Harun Zain dalam menjalankan roda pemerintahannya di Sumatera Barat (Abrar Yusra, 1997:385-388).

UNAND akhirnya menganugerahi Harun Zain gelar Doktor Honoris Causa (Dr. HC) bidang pembangunan pertanian di Sumatera Barat. Sudah sepantasnya Harun Zain mendapatkan gelar Dr. HC. dari UNAND, meminjam kata-kata Dr. Suryadi, Dosen Universiteit Leiden, Belanda "tanda kita pandai menghormati para pendahulu kita". Ini adalah suatu bentuk penghargaan terhadap jasa dan pengabdian Harun Zain sewaktu memimpin UNAND, Sumatera Barat, dan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia. Tentu gelar Dr. HC. yang diberikan UNAND ini tepat terutama karena jasa-jasanya saat menjadi Gubernur Sumatera Barat dalam usaha mambangkik batang tarandam, mambangun kampuang halaman.

Daftar Kepustakaan

Abrar Yusra. 1997. Tokoh yang Berhati Rakyat. Jakarta: Yayasan Gebu Minang.

Dr. Raichul Amar, M.Pd, dkk, 2016, yang menulis IAIN Imam Bonjol (1966-2016): Tonggak Sejarah Kebangkitan Perguruan Tinggi Islam di Sumatera Barat).

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH