IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Prof Harun Zain dan Prof Isrin Noerdin Saling Dukung Demi Kemajuan Kampung Halaman

Gubernur Sumatera Barat Harun Zain sedang berada di Pedesaan, tatap muka dengan ninik mamak dan masyarakat (Sumber Foto: Abrar Yusra, 1997:193).
Gubernur Sumatera Barat Harun Zain sedang berada di Pedesaan, tatap muka dengan ninik mamak dan masyarakat (Sumber Foto: Abrar Yusra, 1997:193).
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Tidak hanya itu, dalam konteks mambangun kampung halaman, bahkan Gubernur Harun Zain sangat mendukung Rektor IKIP Padang Prof. Dr. Isjrin Noerdin yang ingin menjadikan Sumatera Barat sebagai pelaksana proyek percontohan pendidikan nasional yang disponsori oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI Jakarta. Karena hasil dari percontontohan pendidikan ini akan diterapkan diseluruh provinsi di Indonesia. Gubernur Harun Zain sangat mendukung, bahkan beliau sendiri termasuk anggota board proyek tersebut. Ini patut menjadi contoh kepemimpinan yang saling dukung mendukung dalam membangun Sumatera Barat yang dilandasi oleh jiwa zaman (zeitgeist) mambangkik batang tarandam waktu itu.

Pada masa jabatan periode kedua Gubernur Harun Zain akan berakhir (1972-1977), Harun Zain pernah meminta Prof. Dr. Isjrin Noerdin untuk melanjutkan estafet kepemimpinan Gubernur Sumatera Barat. Namun permintaan tersebut ditolak oleh Prof. Dr. Isjrin Noerdin, karena beliau tetap berkomitmen dibidang pendidikan, hal ini terbukti. Setelah tidak lagi menjadi Rektor IKIP Padang (1973) Prof. Dr. Isjrin Noerdin kembali ke ITB, lalu karena adanya kerjasama Indonesia - Malaysia (ITB-Universitas Kebangsaan Malaysia) maka Prof. Dr. Isjrin diminta oleh UKM menjadi Guru Besar Tamu untuk mengembangkan UKM dalam tahun 1973-1977.

Mungkin tidaklah salah kiranya jika ada carito lapau tentang dahulu orang Malaysia berguru ke Indonesia! Setelah pulang dari UKM, Prof. Dr. Isjrin Noerdin kembali ke ITB (1977) karena masih berstatus Guru Besar ITB sampai tahun 1988. Pada tahun 1988, Prof. Dr. Isjrin Noerdin pensiun sebagai PNS di ITB. Namun Prof. Dr. Isjrin Noerdin terus dipercaya menjadi anggota PARB Bank Dunia XVII yang melaksanakan proyek Bank Dunia berupa pembangunan Pusat Antar Universitas (PAU) atau Inter University Center (IUC) yang terdapat di kampus UGM Yogyakarta. PAU Bioteknologi, PAU Ilmu Teknik, PAU Studi Sosial, PAU Studi Ekonomi, dan PAU Pangan dan Gizi masih tetap eksis (Isjrin Noerdin, Data Pribadi, 1989 dan Hadi Nur, 2020:10-11, Catatanku).

Akhirnya yang menjadi Gubernur Sumatera Barat selanjutnya adalah Kapten Ir. Azwar Anas, juga seorang lulusan Kimia ITB yang sebelumnya berdinas di TNI sebagai Direktur Pusat Industri Angkatan Darat (PINDAD) di Bandung. Ir. Azwar Anas adalah perantau Minang yang pulang kampung untuk memimpin PT. Semen Padang yang keadaanya waktu itu seperti karakok di atas batu, hiduik sagan, mati ndak amuah (Abrar Yusra, 1997:383-384).

Selain menjadi Rektor IKIP Padang, Prof. Dr. Isjrin Noerdin juga menjadi Dekan FIPIA-UNAND pada tahun 1965-1968 dan 1968-1970 (http.fmipa.unand.ac.id). Waktu itu Rektor UNAND adalah Prof. dr. Busyra Zahir (1968-1976). Sebetulnya, sebelum Harun Zain menjadi anggota MPR-RI tahun pada 1988-1992, Prof. Dr. Isjrin Noerdin telah menjadi anggota MPRS-RI pada tahun 1968, 20 tahun lebih awal (Keppres Nomor 95 Tahun 1968). Bahkan pada tahun 1967, Prof. Dr. Isjrin Noerdin telah berhasil menerbitkan artikelnya di jurnal internasional ACS Publication (American Chemical Society), di Amerika Serikat pada tanggal 1 November 1966 dan 1 Januari 1967 (https://pubs.acs.org/action/doSearch?AllField=isjrin). Sekarang, tahun 2024, jurnal ini terindek Scopus (https://pubs.acs.org/journal/jacsat).

Saat ini artikel yang terbit di jurnal internasional terindek Scopus menjadi persyaratan yang sangat penting bagi seseorang dapat meraih gelar Doktor of Philosophy (Ph.D / Dr.) dan gelar Guru Besar (Profesor). Prof. Dr. Isjrin Noerdin telah melakukan hal itu 58 tahun yang lalu (1966) tepat saat kampus IKIP Padang dan UNAND di Air Tawar mulai pertama kali dibangun. Ini suatu novelty / terobosan yang mengandung kebaharuan, jika kita mau jujur melihat bahwa ini masih dalam semangat mambangkik batang tarandam dibidang keintelektualan. Tentu patut dicontoh hal yang telah terbukti baik ini.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Selaku Rektor UNAND Drs. Harun Zain mengarahkan kepada kegiatan-kegiatan bersama sivitas akademika UNAND untuk menanamkan dan mengembangkan semangat kebersamaan. Bentuk yang dipilih adalah gotong royong, suatu kegiatan pembangunan kampus yang juga dilakukan Rektor IKIP Padang Prof. Dr. Isjrin Noerdin. Gotong royong dengan menyusun regu kerja mahasiswa, gotong royong membuat lapangan bola kaki dari sebidang tanah yang penuh dengan puluhan pohon kelapa, lokasinya di kampus Air Tawar.

Rektor Harun Zain ikut mencangkul, berbuka baju kaos, ramai-ramai menarik urat pohon kelapa yang sudah ditumbangkan, "bertempur" dengan semut besar, semut merah dan ulat lain yang muncul dari galian pohon-pohon kelapa tersebut (Abrar Yusra, 1997:135). Kalau ada dosen berdiri saja, maka akan ditegur oleh Rektor Harun Zain. Gotong royong juga dilakukan sivitas akademika UNAND dalam membangun asrama mahasiswa yang bersifat darurat di Air Tawar, Padang.

Selaku Rektor UNAND Harun Zain telah melakukan berbagai langkah strategis seperti mengatasi kekurangan tenaga pengajar berbagai fakultas dengan mengadakan program afiliasi: FE-UNAND dengan FE-UI, melalui foundation tenaga pengajar UNAND diberi kesempatan untuk merampungkan Program Pasca Sarjana, Faperta UNAND dengan USU Medan dan IPB Bogor, FK-UNAND dengan FK-UI, dsb. Selain itu juga membentuk Fakultas Peternakan tersendiri, terlepas dari Fakultas Pertanian, dalam hal ini UNAND atas prakarsa Thamrin Noerdin mendahului seniornya: IPB dan UI.

Selain itu Rektor Harun Zain diminta oleh Gubernur Sumatera Barat waktu itu Kaharuddin Datuk Rangkayo Basa (17 Mei 1958-5 Juli 1965) menyusun Pola Pembangunan Sumatera Barat. Rektor Drs. Harun Zain lalu membentuk sebuah tim yang terdiri dari dosen-dosen UNAND: Hendra Esmara, Mawardi Yunus, Irwan Rasjid, dll. Rektor Harun Zain juga melaksanakan seminar ilmiah untuk memperingati Dies Natalis UNAND yang ke VIII. Berdasarkan hasil seminar itu, sebagai tindak lanjutnya UNAND menyusun Rencana Pembangunan Tiga Tahun Daerah Sumatera Barat 1966-1968 atau biasa disebut sebagai Pola Ekonomi Berjuang Sumatera Barat. UNAND juga mengirim misi kesenian UNAND ke Jakarta yang dipimpin oleh Yusaf Rahman dan Syofyani Boestamam karena "bagi saya menghidupkan kesenian Minang saat itu berarti perjuangan. Dalam hal ini untuk menyadarkan urang awak akan identitas dirinya, kebudayaannya. Untuk memperlihatkan masih ada aku-nya kita" sebut Rektor Harun Zain (Abrar Yusra, 1997:137-140).

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH