Karena itu pula, Pimpinan Ponpes Darul Ulum Padang Magek, akan tetap mempertahankan mamakiah sebagai salah satu mata pelajaran di pondoknya. Alasannya, selama ini, tidak ada masyarakat nagari-nagari di Tanah Datar, yang diresahkan oleh anak santri yang mamakiah.
Malah sebaliknya, banyak warga masyarakat yang merasa terbantu oleh kegiatan ini. Seperti dalam memanjatkan doa keluarga dan melapaskan nazar dan niat tertentu. Karena itu pula, anak santri Darul Ulum tidak merasa rendah diri dengan kegiatan mamakiah.
Bagi masyarakat Tanah Datar, sejak dahulu hingga kini sudah akrab dengan anak siak (santri) Surau Baru (Pesantren Darul Ulum) Padang Magek. Seperti diakui M. Nasir Naid, salah seorang tokoh masyarakat Nagari Lima Kaum.
Menurutnya, kalau ada anak anak seusia sekolah pakai sarung , pakai peci hitam dan membawa buntia, itulah ciri khas santri Pondok Pesantren Darul Ulum Padang Magek.
Mereka sangat dibutuhkan oleh masyarakat kami, untuk memanjatkan doa keluarga. Kalau ada warga masyarakat yang ingin berdoa untuk arwah orang tua-tua, tidak sulit menunggu orang siak (pelafal doa).
Selain berguna untuk melatih kesabaran diri dan mengasah jiwa, mamakiah juga sangat berguna untuk tempaan moral calon pemimpin masyarakat.
Dalam hal ini, Sosiolog Mochtar Naim, mengatakan, bahwa kegiatan mamakiah yang dilakukan santri Darul Ulum dan beberapa santri pesantren lain di Sumbar, hampir sama dengan yang dilakukan calon pemimpin di daerah Tibet, Thailand dan Kamboja.
Di daerah itu, kata Mochtar, calon pemimpin masyarakat itu harus dilatih kesabarannya, diasah rendah-hatiannya, dengan menjadi orang papa di tengah masyarakat, selama beberapa tahun.
Mereka mencoba hidup dari masyarakat, sambil menyelami prilaku masyarakat. Tujuan akhirnya bagaimana seorang pemimpin itu tidak sombong, tidak angkuh dan tidak tinggi hati.
Editor : Berita Minang






