Sebab, tidak sulit menunggu orang untuk melafalkan doa keluarga, bagi kalangan ibu ibu, yang telah menetap di kampung.
Santri Ponpes Darul Ulum melakukan mamakiah, hanyalah yang laki-laki saja. Kini jumlah santri sekitar 350 orang dan sekitar 200 orang laki-laki. Mereka yang melakukan mamakiah ini, sudah diatur dari pondok kemana mereka melakukan perjalanan.
Biasanya, santri senior sudah membagi jadwal perjalanan yunior mereka untuk 75 nagari di Kabupaten Tanah Datar, plus nagari-nagari yang ada di kabupaten tetangga.
"Pengaturan ini penting, supaya tidak terjadi tumpang tindih dan supaya tidak terlihat berbondong-bondong menuju nagari tertentu. Tapi, kalau untuk satu nagari dijalani oleh dua atau tiga orang, itu sudah tidak masalah," kata Ampera.
Beberapa kalangan dari masyarakat modern, ada yang memandang kegiatan mamakiah, sebagai tindakan meminta-minta. Sedangkan Rasulullah Muhammad Saw, mengatakan, bahwa tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah.
Menanggapi hal itu, Ampera, tidak sepandapat. Santri Darul Ulum, katanya, mamakiah bukan mencari kekayaan. Tapi hanya sekedar mencari kebutuhan belajar.
Ditambahkan, Seorang penuntut ilmu, yang mencurahkan tenaganya untuk menuntut ilmu syar'i, meskipun dia masih mampu untuk bekerja, boleh untuk diberikan bagian dari harta zakat. Hal ini karena menuntut ilmu syar'i termasuk bagian dari jihad fisabilillah.
Santri Darul Ukum, melakukan mamakiah akhir akhir ini, hanya sekali seminggu, hari Kamis saja. Dahulunya hari Kamis dan Jum'at. Sampai hari ini, tidak ada pengaruh negatif secara psikologis, terhadap keberadaan santri Ponpes Darul Ulum.
Sebab, mamakiah sudah dipandang sebagai sebuah kegiatan mata pelajaran, yang harus dilakukan santri. Sehingganya budaya mamakiah tidak melakat kepada diri mereka. Karena, pada batas-batas tertentu, saat santri sudah pandai berceramah dan sudah tahu memberikan wirid pengajian, mereka tidak melakukan mamakiah lagi.
Editor : Berita Minang






