Selanjutnya, tambah Nanda, semua karya tenunan hasil workshop yang menekankan pada revitalisasi motif-motif songket Canduang yang sebagian sudah jarang ditemukan saat ini, akan dipamerkan dalam kegiatan di Galeri Taman Budaya Sumatra Barat.
Sementara itu, Syaifullah menjelaskan, pameran ini memberikan ruang sangat luas bagi publik untuk mengetahui lebih jauh tentang kekayaan khazanah songket Minangkabau, khusus di Nagari Canduang Koto Laweh.
"Ini sebuah pameran yang cukup menarik dan patut mendapatkan apresiasi kita semua. Kegiatan ini merupakan salah satu acara dari rangkaian program Revitalisasi Songket Canduang yang diinisiasi Nanda Wiarawan. Dinas Kebudayaan Sumatra Barat mendukung dan memberi apresiasi yang tinggi atas kerja keras Nanda dengan dukungan penuh Studio Wastra Pinankabu," jelas Kadis Syaifullah.
Di samping menampilkan songket hasil revitalisasi dari penenun baru, pameran ini juga menyuguhkan kumpulan arsip dan dokumentasi terkait aktivitas revitalisasi songket yang telah digeluti selama lebih dari 10 tahun.
"Maka untuk itu, Dinas Kebudayaan Sumatra Batat mendukung pamaren songket yang diinisiasi Studio Wastra Pinankabu ini. Iven budaya ini jadi ruang memperkenalkan lebih jauh kepada publik proses bagaimana lahirnya tenunan songket, baik dari sisi teknis, historis maupun makna filosofisnya di dalam selembar kain songket," sebutnya.
Pemeran ini berlangsung sejak 8-15 Juni 2023 yang dipusatkan di Geleri Taman Budaya Sumatra Barat. Selain pameran juga digelar workshop dan perbincangan seputar songket Minangkabau. Dalam pembukaan Kamis malam, ditampilkan juga kelompok musik-puisi legendaris Pentassakral, Seni Tradisi Canduang Koto Laweh, dan pembacaan puisi oleh penyair Upita Agustine atau Raudha Thaib. (Rel/BM)
Editor :






