BUKITTINGGI - Dengan interfensi yang dilakukan angka stunting Bukittinggi terus menurun. Alhasil, dengan penurunan prevalensi yang cukup signifikan, menjadikan Kota Bukittinggi menempati angka stunting terendah kedua di Sumatra Barat.
Wali Kota Bukittinggi, Erman Safar, menyampaikan apresiasi kepada SKPD terkait dan tim percepatan penurunan stunting yang telah bekerja maksimal.
Dengan interfensi yang dilakukan angka stunting Bukittinggi terus menurun.
"Ini perkembangan yang baik bagi angka stunting kita. Sejak 2022, stunting menjadi persoalam nasional yang harus kita selesaikan, termasuk Bukittinggi. Upaya yang kita lakukan bersama, menampakkan hasil positif. Kita akan terus tingkatkan untuk melahirkan generasi yang berkualitas dan menjadi pemimpin hebat di masa depan," ungkap Wako.
Kepala DP3APPKB Bukittinggi, Nauli Handayani, menjelaskan, stunting menjadi isu nasional yang harus diantisipasi mulai dari masing masing daerah.
"Untuk itu, sejak 2022, berbagai upaya dilakukan Pemerintah Kota Bukittinggi untuk menekan laju stunting. Upaya yang dilakukan antara lain, interfensi dengan sasaran ibu hamil, interfensi dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 0 sampai 6 bulan serta interfensi dengan sasaran anak usia 6 sampai 24 bulan," jelasnya.
Interfensi gizi spesifik, berkontribusi 30 persen. Upaya yang dilakukan diantaranya, Intervensi ini ditujukan kepada anak dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Kegiatan ini umumnya dilakukan oleh Sektor Kesehatan. Intervensi spesifik bersifat jangka pendek, hasilnya dapat dicatat dalam waktu relative pendek.
Kemudian juga dilakukan interfensi gizi sensitif, berkontribusi 70 persen. Intervensi ini ditujukan melalui berbagai kegiatan pembangunan diluar sektor Kesehatan. Sasarannya adalah masyarakat umum, Tidak khusus hanya untuk 1.000 HPK.
"Pemda melakukan 8 aksi konvergensi dalam upaya pencegahan dan penurunan prevalensi stunting," tambahnya.
Editor :






