Ia menyebut sangat banyak permasalahan lingkungan yang hadir, namun kemudian karena kurangnya sinergitas menjadikan permasalahan itu tidak selesai dengan baik.
Indira mencontohkan, pada 2017 LBH Padang pernah menggugat ke pengadilan atas nama menyelamatkan Sungai Batang Hari, karena ada izin tambang di sungai itu yang mematikan ekologis, yang mematikan banyak flora dan fauna di dalamnya. Perizinan tambang itu, jelasnya, sangat tidak adil bagi masyarakat, kemudian bagi anak-anak dan generasi berikutnya.
"Sama halnya dengan rafflesia yang ada di hutan, kita tak bisa menampik bahwa perusakan lingkungan yang dimotori oleh eksploitasi dan industri ekstraktif seperti perkebunan skala besar dan tambang berpotensi merusak keanekaragaman hayati di Sumbar," kata Indira.
Sementara jurnalis Mongabay indonesia, Jaka HB yang fokus dalam peliputan lingkungan mengatakan Sumbar merupakan paket lengkap secara geografis. Daerah ini mempunyai gunung, laut, hutan, dan sungai.
Isu-isu lingkungan ini, jelasnya menarik untuk dibahas, tidak hanya soal sebuah kasus yang terjadi namun apa yang melatarbelakanginya.
"Jadi menurut saya, isu lingkungan ini sangat menarik untuk dikulik," ia menambahkan.
Diskusi tersebut, juga dihadiri oleh Kepala Dinas Kehutanan Sumbar, Yozarwardi mewakili gubernur Sumbar. Yozarwardi dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasi kegiatan yang diadakan Interes. "Gubernur Sumbar memberi apresiasi yang tinggi untuk acara yang diadakan oleh Interes ini. Karena tidak banyak orang yang menyorot soal tema yang diangkat. Karena tema ini tidak menarik bagi sebagian besar orang. Orang biasanya tertarik pada lingkungan yang rusak".
Dalam diskusi yang juga disiarkan secara langsung di kanal youtube Interes, Yozawardi juga mengapresiasi Joni Hartono yang telah berhasil menangkarkan bunga rafflesia di luar habitat.
"Pak Joni ini harusnya sudah jadi Doktor. Karena sekarang yang bisa menangkarkan Rafflesia itu baru pak Joni. Ini penemuan terbaik. Ini akan menjadi interes bagi pak gubernur".
Editor : Berita Minang






