Rafflesia sendiri selama ini lebih dikenal di Bengkulu, karena ditemukan dan dipublikasikan lebih awal, yakni tahun 1818, sementara di Sumbar pada 1928.
"Ini juga bukan klaim dari kita soal kuantitasnya, namun kami pernah mengundang seorang ahli dari Bengkulu dan ia mengakui bahwa potensi di Sumbar sangat luar biasa," ujarnya.
Ketua Jurusan Biologi Unand, Wilson Novarino mengatakan hal senada, potensi bunga rafflesia di Sumbar sangat tinggi dan menurutnya banyak yang belum tergali.
"Tak perlu jauh-jauh, di Padang ini kita bisa temui bunga rafflesia, di Taman Hutan Raya Bung Hatta misalnya di sana juga tumbuh bunga rafflesia, kemudian di Ulu Gadut juga," sebutnya.
Namun demikian, ia mengapresiasi upaya Joni Hartanto dalam penangkaran raflesia. Sebab menurutnya terlepas dari upaya pelestarian di alam atau habitat asli bunga rafflesia, usaha konservasi di luar itu juga penting.
"Jadi keduanya sama-sama penting, apalagi kalau alam tidak dijaga, atau rantai dari penyebaran rafflesia terputus, tentu upaya konservasi sangat dibutuhkan," jelas Wilson.
Kekayaan alam Sumbar, lanjutnya juga selaras dengan kehidupan masyarakat Sumbar sejak dahulu. Kehidupan sosial masyarakat banyak sekali mengambil nilai-nilai dari alam. Seperti misalnya ukiran 'itiak pulang patang' yang terinspirasi dari itik yang berbaris rapi saat hendak pulang ke kandangnya.
Wilson menyebut alam juga mempengaruhi tata pergaulan masyarakat sehari-hari, tatanan sistem pemerintahan, hubungan sinergis mamak dan kemenakan, keteguhan dalam menjalankan prinsip hidup, serta kebersamaan dan kekompakan hidup bermasyarakat
Senada dengan Ade Putra dan Dr Wilson, Direktur LBH Padang Indira Suryani mengatakan persoalan lingkungan menjadi topik yang harusnya menjadi perhatian bersama.
Editor : Berita Minang






