Jawatan kepolisian Metro pun demikian. Para pimpinan Amir di kepolisian berkebangsaan Belanda meninggalkan tugas begitu saja tanpa ada komunikasi. Semua instansi lumpuh total ditinggal para pimpinannya. Ternyata sebuah kapal perang sekutu sudah menunggu di lepas pantai perairan Lampung untuk menyelamatkan mereka ke Australia.
Saat itu Amir Djamin merenung. Apakah kolonialisme Belanda itu akan berakhir sekarang?. Jika itu benar, maka apa yang dia perkirakan selama ini akan terjadi. Bahwa akan datang masanya dimana Jepang akan menguasai bangsa kita bahkan dunia. Saat itulah ia teringat dengan kampung halamannya Sawahlunto, terutama kedua orang tua, dan sanak saudaranya di Nagari Kubang yang ditinggalkannya selama ini, selain bagaimana nasib tambang Ombilin pasca kalahnya Belanda oleh Jepang.
Sebab, kata Amir Djamin menceritakan kepada anak-anaknya, ketika Jepang masuk banyak asset peninggalan Belanda yang akan dikuasai Jepang. Diceritakan, sebelum ke Sawahlunto Jepang masuk terlebih dahulu ke Palembang untuk menguasai objek vital tambang minyak di Plaju, dan tambang timah di Bangka. Maka kemungkinan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto adalah target berikutnya oleh Jepang.
Karena situasi terus berkecamuk dalam pikirannya, Amir akhirnya memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Sawahlunto dengan cara naik sepeda bersama rekannya Hasan dari Solok masing-masing satu sepeda patroli yang ditinggalkan Belanda. Saat melakukan perjalanan jauh disebabkan sulitnya kendaraan ke Padang mereka hanya dibekali sepucuk senjata, dan untuk makan di jalan mereka memanfaatkan benda apa saja yang bisa dimakan mereka makan sehingga perjalanan bisa ditempuh selama 17 hari dari Metro Lampung ke Sawahlunto dengan perjuangan berat, dan melelahkan melewati hutan lebat penuh binatang buas, dan sungai-sungai besar, dan kecil. Peristiwa itu terjadi pada tahun 1942.
Begitu juga nasib teman-temannya alumni Sekolah Kepolisian Sukabumi baik satu angkatan maupun bukan yang bertugas di Batavia dan Jawa harus pulang ke kampung masing-masing. Tak lama, terdengar sebuah nama R.S. Soekanto adalah seniornya alumni Sekolah Kepolisian Belanda di Sukabumi yang berasal dari Bogor yang memiliki pengaruh saat masa pendidikannya di sekolah kepolisian itu. Orang tua R.S Soekanto tinggal di Lawang Gintung Bogor adalah orang tua angkat Amir selama di Bogor.
Singkat cerita, usai menjadi polisi Belanda dan sampai kembali di kampung halaman di Sawahlunto, Amir Djamin lalu masuk pendidikan Gyugun militer Jepang dan hingga menjadi perwira militer berpangkat kapten setelah menamatkan pendidikan Gyugun di Padang dengan pangkat Letnan. Dan lalu berkiprah dimasa kemerdekaan mendirikan Badan Kamanan Rakyat (BKR) di Sawahlunto dengan anggota sekitar 200 orang.
Sebagai penguasa militer di Sawahlunto masa pendudukan Jepang, Amir Djamin dikenal tegas dan beribawah dan sangat nasionalis dengan berupaya menyelamatkan tambang Ombilin dan Kota Sawahlunto dari rencana pergolakan aksi bakar habis seluruh benda dan bangunan peninggalan Belanda di Sawahlunto. Rencana ini ditantang Amir Djamin, Koita berperang dengan Belanda dan penjajah tidak harus melakukan pembakaran terhadap gedung dan aset pertambangan. Karena dia pimpinan militer kharismatik, jago silat, dan memiliki ilmu lainnya perintahnya berhasil mujarab dailaksanakan seluruh anak buahnya untuk tidak membumihanguskan Sawahlunto.
Entah apa yang terjadi, ditahun 1950 nama Amir Djamin hilang dari buku putih dinas kemiliteran. Maklum, dimasa itu TNI mengalami kontradiksi besar. Sebagai seorang perwira tiga zaman yang sudah berkecimpung dikemiliteran dengan segudang pengalaman dan taktik perang serta karir yang cemerlang dizamannya, perbuatan menghilangkan namanya dari lembaran sejarah dijawab dengan lapang hati dan jiwa besar. "Pejuang itu tidak mengharap pamrih, tulus dan ikhlas demi bangsa" ungkap Akhyar menirukan pesan ayahnya semasa hidup.
Pasca kemerdekaan, namanya muncul kembali. Pada tahun 1958 dia menjadi target penangkapan oleh Divisi Diponegoro dalam pergolakan dan penumpasan PRRI oleh TNI. Rumah orang tuanya yang ada di Kubang dibumihanguskan pasukan Divisi Diponegoro sekitar tahun 1960, kemudian karena di infiltrasi sebagai pemberontak padahal PRRI hanya memperjuangkan rasa keadilan, bukan memisahkan diri dari NKRI, Kapten Amir Jamin Dt. Rajo Nan Sati ditangkap dan dijebloskan ke penjara di Sawahlunto.
Editor : Marjeni Rokcalva






