IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Kapten Amir Djamin, Pejuang Kemerdekaan Sawahlunto yang Dilupakan dan Dihilangkan?

Akhyar Amir, putra ke tiga tokoh pejuang Amir Djamin yang dilupakan tengah berdoa untuk ayahnya diakhirat. Foto: Iyos
Akhyar Amir, putra ke tiga tokoh pejuang Amir Djamin yang dilupakan tengah berdoa untuk ayahnya diakhirat. Foto: Iyos
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Amir Djamin, sangat gemar membaca, terutama berita koran-koran pergerakan kaum nasionalis berbahasa Belanda. Disinilah Amir muda mulai mengikuti arah perkembangan pergerakan nasional yakni menuju Kemerdekaan Indonesia. Pemikiran para tokoh pergerakan seperti H. Agus Salim, Ir. Sukarno, Tan Malaka, Hatta, Syahrir dan tokoh pergerakan lainnya saat itu mulai menyedot perhatian agar Indonesia bisa lepas dari tangan penjajahan, sehingga membangkitkan jiwa juangnya untuk Indonesia Merdeka.

Seperti hal jiwa kesatria kakeknya H. Aqah yang anti penjajahan, seorang pemimpin spritual kharismatik, dan berilmu yang mampu membunuh 84 tentara Belanda dalam aksi pemberontakan di Kubang, sedangkan saat itu pemberontak yang terbunuh hanya 4 orang. Inilah yang dijadikan martir oleh Amir Djamin untuk melanjutkan perjuangan kekeknya ini yang hidup dari tahun 1838-1915 itu. H. Aqah, terlibat perang melawan Belanda atas perampasan tanah ulayat Nagari Kubang untuk pertambangan batubara Ombilin tahun 1908.

Kisah heroik H. Aqah, Kakek Amir Djamin, telah membuatnya menjadi nasionalis disaat umur menanjak dewasa 17 tahun. Di mulai tertarik dengan dunia perjuangan politik Kemerdekaan Indonesia sembari berangsur meninggalkan usaha dagangnya bersama sepupunya Sya'ir .

Suatu ketika Amir Djamin membaca berita koran Berbahasa Belanda yang mengumumkan perekrutan serdaruKoninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) sebagai taruna angkatan laut yang berbasis di Surabaya. Info ini mengundang minatnya, secara diam-diam Amir Djamin menyiapkan lamaran tanpa sepengetahuan sepupunya Sya'ir. Dia ingin masuk pendidikan militer ini diiringi dengan modal jago bela diri silat, dan ilmu putih kebatinan turunan kakeknya H. Aqah.

Tapi, keinginan Amir untuk masuk pendidikan KNIL berantakan karena ayahnya H. M Djamin setelah diberitahu diam-diam Sya'ir tidak merestui karena dia ingin anaknya menjadi saudagar yang berhasil, dan maju. Bukan bergabung dengan angkatan laut KNIL di Surabaya. Ayahnya kecewa, dan sempat memarahi Amir untuk membatalkan rencananya tersebut. Akhirnya Amir mengurungkan niatnya meski dia dinyatakan lulus untuk mengikuti pendidikan di angkatan laut KNIL ini.

Tak lepas dari rencana itu, Amir dapat info lagi tentang penerimaan siswa di Sekolah Kepolisian di Salabintana Sukabumi. Kali ini Amir nekat untuk mengajukan lamaran tanpa memberi tahu Sya'ir lagi. Sebenarnya yang diinginkannya adalah menjadi serdadu KNIL atau polisi Belanda, sebab dalam pemikirannya bagaimana melawan penjajahan jika tidak memahami dan pelajari ilmu kemiliteran, karena di era itu suasana Perang Dunia ke II makin panas.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Amir Djamin akhirnya diterima sebagai siswa Sekolah Kepolisian Belanda di Salabintana Sukabumi. Kali ini Sya'ir tak dapat berbuat banyak. Dia terpaksa membiarkan Amir mengejar impiannya dengan meninggalkan dua buah toko yang diserahkan pengelolaannya kepadanya. Pada tahun 1937, Amir mulai menjalani pendidikan kepolisian di sukabumi. Dia dikenal sebagai siswa berprestasi, dan mampu memainkan alat musik seksofon, dan marchingband. Tak lama dia menamatkan pendidikan tahun 1939 di usia 18 tahun, dan bertugas di Metro Lampung sebagai polisi Belanda dari tahun 1939-1942.

Saat bertugas di tahun 1940, dia ditugaskan menerima ribuan orang dari Jawa di Lampung sebagai transmigran oleh Belanda. Para transmigran itu didatangkan dengan kapal, dan bus-bus dengan kondisi memprihatinkan, kendaraan penuh sesak, dan dikawal dengan moncong senjata yang siap meledak. Kondisi, dan situasi seperti ini membangkitkan rasa nasionalismenya untuk memberontak tetapi hal itu sulit dilakukan karena Belanda saat itu sangat kuat, dan dipersenjatai lengkap.

Suatu ketika, di musim liburan pendek, Amir mulai jenuh di Metro, lalu dia pun berangkat ke Batavia dengan alasan rindu menonton sebuah film di bioskop yang disediakan Hindia Belanda. Ini hanya alasan semata tetapi yang sebenarnya adalah keinginannya untuk melihat bagaimana perkembangan kaum pergerakan di Batavia untuk memerdekakan Indonesia.

Tahun 1942, Jepang pun masuk ke Hindia Belanda (Indonesia). Di Sumatera, serdadu Jepang masuk melalui jalur Singapura kemudian Palembang. Tersiar kabar bahwa serdadu Jepang sudah masuk di Palembang. Maka di Lampung, dan sekitarnya termasuk di Metro pegawai-pegawai pemerintahan Belanda lari menyelamatkan diri.

Editor : Marjeni Rokcalva
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH