SAWAHLUNTO - Masih dalam suasana menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) ke-76, banyak warga mengenang para pejuang kemerdekaan masa silam yang bersusah payah memerdekakann bangsa ini dari penjajahan Belanda dan Jepang. Banyak darah yang tercecer, dan korban berjatuhan di ujung bedil, dan sangkur terhunus kolonial serta pengkhianat bangsa. Sekarang, kita bisa tertawa, bebas, dan menikmati hasil perjuangan mereka.
Tetapi ada yang terlupakan, seorang sosok pejuang kemerdekaan bernama Kapten Amir Djamin Dt. Radjo Nan Sati, pemimpin militer, dan pengibar bendera merah putih pada tanggal 16 Agustus sebelum Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Nagari Kubang, Sawahlunto. Namanya terbenam ke dalam Bumi karena tak tercatat sebagai pejuang. Jangankan itu, keluarga almarhum patriot bangsa ini juga tak pernah diundang pemerintah dalam setiap kegiatan hari-hari besar kenegaraan seperti HUT Kemerdekaan RI, dan Hari Pahlawan.
"Sangat tidak elok jika sosok pejuang kemerdekaan seperti Kapten Amir Djamin "Singa Sawahlunto" ini dilupakan dan tidak digali sejarah perjuangannyanya. Apalagi keluarganya juga tak undang, dan dilibatkan dalam setiap kegiatan menyambut hari-hari besar kenegaraan seperti HUT RI dan Hari Pahlawan. Marilah kita menghormati para pejuang kemerdekaan, karena dari merekalah kita busa hidup seperti sekarang," ungkap Letkol (Purn) Anwar Hareva, MantanInspektorat Jenderal Angkatan Darat (Itjenad) Markas Besar (Mabes) Tentara Negara Indonesia (TNI) ini.
Akhyar Amir, anak dari Kapten Amir Djamin kepada beritaminang.com dua hari lalu menceritakan, meski nasib ayahnya dibuat demikian, tetapi kesatuan TNI melalui Dandim 0310 SSD telah menyambangi makam, dan keluarganya sekedar menghormati perjuangan Kapten Amir Djamin sebagai "Singa Kubang" dari Sawahlunto yang sangat anti penjajahan. Beliau sangat lihai menyelinap ke sarang Belanda, dan Jepang untuk belajar bahasa kedua koloni itu disamping mengetahui kekuatan, dan kelemahan mereka sembari belajar memegang senjata sebagai alat perjuangan bersama anak buah, dan rekan seperjuangnya yang lain.
Sosok Kapten Amir Djamin
Tujuan Amir merantau ke Bogor adalah untuk berdagang seperti kebiasaan orang Minang, dan menemui kakak sepupunya Sya'ir atau biasa disapa Sya'ia, keponakan dari H.M. Djamin ayah Amir Djamin tokoh terpandang yang sudah duluan merantau ke Bogor.
H.M Djamin, membekali Amir dengan modal berdagang secukupnya dengan menitipkan bimbingan kepada keponakannya Sya'ir bagaimana menunjukan cara berdagang yang baik sesuai ajaran agama. Seperti pituah Minang "anak dipangku kemenakan (ponakan) dibimbing", modal dagang yang dibawa Amir juga diselipkan untuk penambah modal Sya'ir keponakannya yang lebih tua 10 tahun dari Amir kecil dalam mengelola toko kelontong di Pasar Anyar Bogor
Selama di Bogor, diusianya yang baru 14 tahun, Amir mampu beradaptasi dengan lingkungan pribumi Bogor, dan Belanda dengan terus mengasah kemampuannya berbahasa Belanda dan Bahasa Inggris yang diperoleh saat sekolah di HIS Sawahlunto.
Bahkan Amir remaja mulai berteman dengan beberapa orang Jepang yang ternyata adalah agen mata-mata Jepang yang menyusup ke Bogor tahun 1939 sebelum Perang Dunia II meletus. Dari agen Jepang inilah Amir belajar bahasa Jepang, hingga akhirnya dia mampu dengan fasih berbahasa Belanda, Inggris, dan Jepang. Bahkan Amir akhirnya dia dipakai sebagai penerjemah tiga bahasa saat menjadi perwira Gyugun di Padang.
Editor : Marjeni Rokcalva






