IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Menelusuri Jejak Keminangkabauan di Nagari Tertua Minangkabau Pariangan

Foto Nurul Hafiza
Ilustrasi Menelusuri Jejak Keminangkabauan di Nagari Tertua Minangkabau Pariangan
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

DI LERENG GUNUNG MARAPI, sekitar 15 kilometer dari Kota Batusangkar, terdapat sebuah nagari yang memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Minangkabau, yaitu Pariangan. Nagari ini dikenal luas sebagai Nagari Tuo atau nagari tertua di Minangkabau. Dalam berbagai tambo dan cerita yang berkembang di tengah masyarakat, Pariangan disebut sebagai tempat awal berkembangnya kehidupan masyarakat Minangkabau sebelum menyebar ke berbagai wilayah lain di ranah Minang. Karena itulah, Pariangan tidak hanya dipandang sebagai sebuah kawasan pemukiman, tetapi juga sebagai ruang budaya yang menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah dan identitas keminangkabauan.

Keistimewaan Pariangan tidak hanya terletak pada cerita sejarahnya, tetapi juga pada keberadaan berbagai situs budaya yang masih terpelihara hingga saat ini. Di nagari ini, masyarakat masih hidup berdampingan dengan warisan leluhur yang diwariskan secara turun-temurun. Berbagai peninggalan tersebut menjadi bukti bahwa Pariangan memiliki peran penting dalam pembentukan nilai-nilai sosial, adat, dan budaya yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Minangkabau.

Salah satu situs yang paling dikenal di Pariangan adalah Batu Tigo Sajarangan. Situs ini berkaitan erat dengan kisah lahirnya sistem pemerintahan adat Minangkabau. Menurut tambo, Batu Tigo Sajarangan menjadi simbol pertemuan tiga tokoh penting dalam sejarah Minangkabau, yaitu Datuk Ketumanggungan, Datuk Perpatih Nan Sabatang, dan seorang tokoh penengah yang membantu menyelesaikan perbedaan pandangan di antara keduanya. Dari pertemuan tersebut lahirlah kesepakatan yang menjadi dasar pelaksanaan adat Minangkabau.

Batu Tigo Sajarangan memiliki makna yang sangat dalam bagi masyarakat. Batu ini bukan sekadar benda bersejarah, melainkan lambang musyawarah dan mufakat yang menjadi salah satu prinsip utama dalam kehidupan orang Minangkabau. Hingga sekarang, nilai musyawarah masih menjadi pedoman dalam menyelesaikan berbagai persoalan adat maupun persoalan sosial di tengah masyarakat. Keberadaan Batu Tigo Sajarangan menunjukkan bahwa sejak dahulu masyarakat Minangkabau telah menjunjung tinggi nilai kebersamaan dan dialog dalam mengambil keputusan.

Selain Batu Tigo Sajarangan, Pariangan juga memiliki situs bersejarah yang dikenal dengan nama Sawah Satampang Baniah. Dalam cerita masyarakat, sawah ini dipercaya sebagai tempat pertama kali benih padi ditanam di Minangkabau. Meskipun cerita tersebut sulit dibuktikan secara ilmiah, keberadaannya memiliki nilai simbolis yang sangat penting. Sawah Satampang Baniah menggambarkan hubungan erat masyarakat Minangkabau dengan dunia pertanian.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Pertanian telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat sejak masa lampau. Kesuburan tanah di sekitar Gunung Marapi memungkinkan masyarakat mengembangkan sistem pertanian yang mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka. Oleh karena itu, sawah tidak hanya berfungsi sebagai lahan produksi pangan, tetapi juga menjadi simbol kesejahteraan dan keberlangsungan hidup masyarakat. Hingga saat ini, hamparan sawah yang membentang di sekitar Pariangan masih menjadi pemandangan yang memperlihatkan kuatnya hubungan masyarakat dengan tradisi agraris.

Jejak keminangkabauan di Pariangan juga dapat ditemukan pada keberadaan Kuburan Panjang. Situs ini merupakan salah satu makam tua yang dihormati oleh masyarakat setempat. Kuburan tersebut dipercaya sebagai tempat peristirahatan tokoh penting yang memiliki hubungan dengan sejarah awal Minangkabau. Ukuran makam yang jauh lebih panjang dibandingkan makam biasa menimbulkan berbagai cerita dan kepercayaan di kalangan masyarakat.

Terlepas dari berbagai versi cerita yang berkembang, Kuburan Panjang menunjukkan bagaimana masyarakat Minangkabau menghargai dan menjaga hubungan dengan masa lalu mereka. Situs ini menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Melalui cerita-cerita yang menyertainya, masyarakat tidak hanya mengenang tokoh-tokoh terdahulu, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai yang mereka wariskan.

Selain situs sejarah, jejak keminangkabauan di Pariangan juga terlihat pada kehidupan sosial masyarakat yang masih berpegang teguh pada adat. Masyarakat Pariangan menjalankan kehidupan berdasarkan prinsip adat yang telah diwariskan sejak lama. Salah satu prinsip yang paling dikenal adalah falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Falsafah ini menegaskan bahwa adat dan agama saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Penerapan falsafah tersebut terlihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari pelaksanaan upacara adat, penyelesaian sengketa, hingga hubungan sosial antarwarga. Nilai-nilai agama dan adat berjalan beriringan sehingga membentuk karakter masyarakat yang menghormati tradisi sekaligus menjunjung tinggi ajaran Islam.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH