IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Mempertahankan Bahasa Minang di Era Digital pada Gen Z

Foto Mayra Salza Billa
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

BAHASA merupakan salah satu unsur penting dalam identitas budaya suatu masyarakat. Di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi informasi yang pesat, keberadaan bahasa daerah mengalami tantangan yang serius. Salah satu bahasa daerah yang turut menghadapi persoalan ini adalah Bahasa minangkabau, yang merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Minangkabau (Minang) di Sumatera Barat. Generasi muda yang dikanal dengan Generasi Z (Gen Z) saat ini, yang sangat akrab dengan dunia digital, cenderung lebih fasih berbahasa Indonesia atau bahkan bahasa asing dibandingkan dengan bahasa ibunya sendiri.

Di era digital yang ditandai dengan dominasi media sosial, aplikasi, dan konten daring berbahasa nasional maupun global, posisi bahasa daerah seperti Minangkabau makin terpinggirkan. Oleh karena itu, mempertahankan dan mengembangkan penggunaan Bahasa Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda, menjadi suatu tantangan yang mendesak sekaligus penting demi keberlanjutan warisan budaya bangsa.

Tantangan Bahasa Minangkabau di Era Digital

Tantangan utama yang dihadapi Bahasa Minangkabau adalah penurunan penutur aktif, terutama dari kalangan anak muda. Banyak anak-anak Minangkabau di perkotaan bahkan tidak lagi menggunakan bahasa daerah dalam komunikasi sehari-hari, baik di rumah maupun di sekolah.Bahkan yang tinggal dikampung saja mereka mengajari bahasa indonesia kepada anak-anak mereka dari pada bahasa minangkabau bahasa daerah sendiri.Beberapa penyebabnya antara lain:

1. Dominasi Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Pendidikan formal di Indonesia mengutamakan penggunaan Bahasa Indonesia, sementara akses terhadap hiburan dan media digital membuka ruang yang luas bagi penggunaan bahasa asing, khususnya Bahasa Inggris. Hal ini membuat Bahasa Minangkabau jarang digunakan dalam konteks formal maupun nonformal.

2. Stigma terhadap Bahasa Daerah

Tidak sedikit generasi muda yang menganggap penggunaan bahasa daerah sebagai hal yang “kampungan” atau tidak relevan dengan perkembangan zaman.Anggapan ini membuat mereka enggan menggunakan bahasa daerah secara aktif.

3. Kurangnya Media Berbahasa Minangkabau

Minimnya konten digital, media sosial, aplikasi, atau situs web yang menggunakan Bahasa Minangkabau menjadikan bahasa ini kurang hadir dalam ruang digital yang menjadi bagian besar dari keseharian anak muda masa kini.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH