IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Anak Muda dan Seni Tradisional: Warisan Budaya yang Mulai Terlupakan

Foto Hastri Darma Partiwi
Ilustrasi Anak Muda dan Seni Tradisional: Warisan Budaya yang Mulai Terlupakan
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

INDONESIA merupakan negara yang kaya akan ragam seni dan budaya. Setiap daerah memiliki kesenian tradisional yang unik, mencerminkan identitas serta nilai-nilai lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, di tengah arus modernisasi dan globalisasi yang begitu cepat, generasi muda kini semakin menjauh dari akar budaya mereka sendiri. Seni tradisional perlahan mulai terlupakan, bahkan tidak lagi dikenal oleh sebagian besar anak muda Indonesia.

Fenomena ini tentu tidak terjadi begitu saja. Ada berbagai faktor yang menyebabkan keterasingan anak muda terhadap seni tradisional. Salah satu yang paling dominan adalah pengaruh budaya asing yang masuk melalui media digital. Akses terhadap internet dan media sosial yang semakin mudah membuat generasi muda lebih banyak terpapar budaya populer global, seperti musik K-pop, film dan drama Korea, budaya Jepang, maupun hiburan Barat lainnya. Budaya luar ini dianggap lebih modern, keren, dan sesuai dengan gaya hidup masa kini.

Akibatnya, ketertarikan terhadap seni tradisional pun semakin menurun. Alat musik seperti gamelan, angklung, atau rebab kalah populer dibandingkan gitar listrik atau perangkat musik digital. Tarian tradisional seperti tari Saman, tari Piring, tari pasambahan, tari tor-tor atau tari Topeng dinilai terlalu rumit dan tidak praktis untuk dipelajari, berbeda dengan tarian modern yang bisa dengan cepat dipelajari lewat video viral di media sosial. Begitupun dengan Nyanyian tradisional contoh nya Dendang yang berasal dari Sumatra barat anak muda pun sekarang lebih tertarik dengan lagu-lagu barat,K-Pop dan lagu-lagu yang sedang trend sekarang.

Mirisnya, banyak anak muda yang bahkan tidak mengenal nama-nama kesenian dari daerahnya sendiri. Mereka mungkin tahu nama selebritas internasional, namun asing dengan istilah seperti randai dari Minangkabau, wayang kulit dari Jawa, atau tarian perang khas Papua. Ini menandakan adanya krisis identitas budaya yang perlu menjadi perhatian bersama.

Salah satu penyebab utama dari lunturnya ketertarikan terhadap seni tradisional adalah kurangnya pembelajaran yang menyenangkan dan interaktif di lingkungan pendidikan. Mata pelajaran seni budaya sering kali tidak mendapatkan porsi yang cukup dalam kurikulum. Bahkan, ketika diajarkan, seringkali metodenya masih bersifat kaku dan tidak menarik bagi siswa. Fokus pendidikan yang cenderung mengutamakan aspek akademik juga menyebabkan bidang kesenian kurang mendapatkan tempat.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Selain itu, minimnya ruang berekspresi bagi seni tradisional turut menjadi masalah. Banyak sanggar seni yang gulung tikar karena tidak ada generasi penerus yang melanjutkan. Dukungan dari pemerintah dan masyarakat umumnya hanya bersifat seremonial, seperti saat perayaan Hari Kemerdekaan atau Hari Kartini. Padahal, seni tradisional seharusnya hadir dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda.

Media massa dan media sosial juga lebih banyak menampilkan budaya populer dibandingkan budaya lokal. Anak muda lebih mudah tergoda mengikuti tren global yang sedang viral ketimbang menggali kembali kekayaan budaya yang mereka miliki. Akibatnya, seni tradisional semakin terpinggirkan dan hanya dikenal oleh segelintir kalangan yang peduli.

Meski begitu, harapan belum sepenuhnya hilang. Saat ini, mulai bermunculan anak-anak muda yang sadar akan pentingnya melestarikan budaya tradisional. Mereka berinovasi dengan menggabungkan unsur seni tradisional dan elemen modern agar lebih menarik dan relevan. Misalnya, ada yang membuat konten edukatif dan hiburan di TikTok atau YouTube yang memperkenalkan alat musik daerah, cerita rakyat, maupun tarian tradisional dengan cara yang kreatif.

Beberapa komunitas seni juga aktif mengajak anak muda untuk ikut berkarya dan mengenal seni tradisional lebih dalam. Kolaborasi antara seni modern dan tradisional menciptakan bentuk seni baru yang lebih menarik dan mampu menjangkau audiens yang lebih luas. Misalnya, perpaduan musik gamelan dengan musik elektronik, atau tari tradisional yang dikemas dalam video musik modern.

Pemerintah memiliki peran besar dalam pelestarian seni tradisional. Dukungan nyata dalam bentuk pendanaan, pelatihan seniman muda, penyediaan ruang pertunjukan, serta integrasi budaya lokal dalam kurikulum pendidikan perlu diperkuat. Pendidikan seni budaya tidak boleh hanya menjadi formalitas, tetapi harus menjadi bagian integral dari pembentukan karakter dan identitas nasional.

IKLAN POSISI 15
Bagikan

Opini lainnya
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH

gamespools

aceplay99

dewaslot88

slot anti rungkat

ace99play

slot777