Kasihan memang. Lamptey tidak dapat pendidikan. Hanya satu yang menyelamatkan: bakat hebat sampai moncer bersama tim yunior Ghana.
Beda Lamptey dengan Ansu Fati tentu soal lingkungan. Fati mulai mengkilap di lingkungan yang benar, La Masia lalu Barcelona hingga, awal Oktober lalu, berani menolak tawaran Manchester United senilai Rp 2,6 Triliun.
Lingkungan Lamptey tidak mendukung. Usia 15 pula, ia nekat naik taksi dari Accra (Ghana) ke Lagos (Nigeria), jumpa kapten Super Eagles Stephen Keshi dan lalu bertualang di Eropa.
Dia kepincut Adriaan de Mos, pelatih Anderlecht. "The next Pele," katanya tentang Lamptey, pemain termuda di Liga Belgia.
Sayangnya, Lamptey jarang dapat menit bermain. Oleh manajer, Lamptey dilego ke PSV Eindhoven, Aston Villa plus sederet masalah.
Lamptey lantas bertualang ke banyak klub di banyak negara dengan beragam cerita fluktuatif karena kekurangpintaran dia. Dari Coventry City, Venezia, Santa Fe, Ancaragucu, Uniao Leiria, Greuther Fuerth, Shandong Luneng, Al Nasr, Asante Kotko dan gantng sepatu pada 2008 bersama Jomo Cosmos.
Satu yang menarik, sebab pendidikan masalah terbesar di masa kecil-mudanya, ia mendirikan sekolah gratis untuk masyarakat miskin: Glow-lamp International. Ini sekaligus nama akademinya.
"Agar tidak ada lagi anak-anak Ghana yang kurang beruntung lalu kehilangan segalanya setelah besar. Seperti saya..." (***)
Catatan: Hardimen Koto (Wartawan Olahraga)
Editor :






