PADANG PANJANG - Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak pada pergerakan ekonomi masyarakat. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah usaha Konveksi Sarah Hijab.
Usaha konveksi pembuatan hijab dan masker ini, harus berjuang keras agar usaha yang dulunya ditekuni orang tuanya ini dapat terus berlanjut.
Bahan Teteron Cotton (TC) sisa jahitan pesanan jilbab minggu lalu, dioptimalkan oleh Sarah Hernita (24), menjadi produk lain seperti masker , mengisi waktu luang, sembari berharap ada pesanan kembali.
Bunyi desing mesin jahit pagi itu riuh rendah di rumah kontrakannya di sepadan jalur rel kereta api yang berada di Kelurahan Guguk Malintang, Sabtu,(26/9/2020). "Hitung-hitung mengisi waktu, takutnya kalau jarang dipakai mesin jadi rusak," kata Ibu muda itu.
Diakui Sarah, seiring pandemi Covid-19 , pesanan jilbab usaha konveksi miliknya mengalami penurunan omset. Bahkan, tak ada lagi pesanan jilbab dari sekolah-sekolah. "Biasanya kami memproduksi Jilbab sorong paling kurang 1 kodi dalam 1 hari," kata Sarah.
Puncak pesanan jilbab, dikatakan Sarah, terjadi menjelang tahun ajaran baru. Jilbab sudah di stok agar bisa segera diantar ke toko-toko dan sekolah. Namun karena pandemi semua menjadi ambyar. "Corona ini sangat berdampak pada kami sehingga tidak ada lagi pesanan dari sekolah," sebut Sarah.
Tak patah arang, dimasa pandemi, Sarah beralih untuk menjahit masker. Pesanan bemunculan tetapi tidak begitu banyak. Menurut Sarah modelnya kalah dengan masker skuba.
"Kalah dengan masker bahan skuba. Ingin membuat model seperti skuba, kami tidak bisa, karena mesin membuat masker skuba itu kami tidak punya," katanya.
Namun permasalahan terbesar Sarah adalah di permodalan. Karena pesanan tidak ada, maka putaran bisnisnya pun tersendat.
Editor : Berita Minang






