“Kami tidak menolak program pemerintah, tapi kami menolak geotermal untuk Pandai Sikek. Ketahanan pangan seharusnya dimaksimalkan,” ujarnya. Ia menambahkan, pertemuan ini memberinya kekuatan baru karena bisa bertemu rekan seperjuangan dari nagari lain yang memiliki nasib serupa.
Sementara itu, Eka Oktarizon, warga Sijantang, Kota Sawahlunto yang hidup berdampingan dengan PLTU Ombilin berharap dampak buruk yang dialami warga Sijantang menjadi pelajaran bagi daerah lain. Masalah abu terbang (fly ash), jelas Eka menjadi persoan yang tak kunjung tuntas hingga hari ini.
“Apa yang terjadi di tempat kami jangan sampai terjadi di tempat lain. Kami mendorong kawan-kawan di wilayah yang menjadi target Proyek Strategis Nasional (PSN) agar berani bersikap. Kami sudah melihat banyak mudaratnya dan hingga kini masih terus memperjuangkan keadilan pengelolaan di Ombilin,” ungkapnya.
“Kawasan kami berada di lembah dan dekat permukiman, itu sangat berbahaya bagi nagari. Saya berjuang untuk anak cucu agar tanah ini tidak jatuh ke tangan yang tidak bertanggung jawab. Janji lapangan kerja itu sering kali tidak bertahan lama,” ia menambahkan. R/BM
Editor : Marjeni Rokcalva






