Terkait dengan pameran yang sudah diselenggarakan pada Jumat 18 Juli 2025, menurut Andri juga didukung oleh Tropical Forest Conservation Action-Sumatera (TFCA-Sumatera) yang merupakan pelaksanaan program konservasi hutan dan spesies dengan sumber pendanaan dari pengalihan pembayaran utang untuk lingkungan (Debt-for-Nature Swap) berdasarkan perjanjian bilateral antara Pemerintah Amerika Serikat dan Pemerintah Indonesia di 13 bentang alam prioritas Sumatera.
Andri berharap, laporan tesis dan seluruh karya ini, tidak hanya memperkaya khazanah seni khususnya fotografi, tetapi juga menjadi jembatan pemahaman yang lebih baik antara masyarakat, budaya, dan upaya konservasi Harimau Sumatera.
Advertisement
Scroll kebawah untuk lihat konten
"Narasi yang menceritakan soal mitos inyiak balang, akan terus ada. Meski kemudian ia dianggap entitas sakral yang harus dihormati, jangan lupa bahwa ia juga satwa yang kian hari eksistensinya kian terancam. Jaga dan lindungilah, jangan sampai mengikuti jejak saudaranya dari tanah Bali dan Jawa, mati lalu punah,"tutup Andri Mardiansyah. (Beritaminang/AP)
Editor : Adi Prima







