IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Begini Asal Usul Suku Kampai Minangkabau, Konon Berhubungan dengan Kerajaan Champa

Suku Minang ozaik Minang - WordPress
Suku Minang ozaik Minang - WordPress
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Dari abad ke-15 hingga abad ke-17, Kesultanan Islam Champa menjalin hubungan baik dengan Kesultanan Aceh melalui perkawinan dinasti. Kesultanan ini berada di ujung utara Sumatera dan merupakan penyebar Islam di kepulauan Melayu.

Studi linguistik menunjukkan bahwa orang Aceh dan Champa memiliki hubungan kekerabatan, dengan kedua bahasa mereka berasal dari keluarga bahasa Aceh-Chamic yang sama.

Champa mulai menerima pengaruh Islam setelah dikalahkan oleh Vietnam, yang menyebabkan jatuhnya kota Vijaya pada tahun 1471.

Sultan pertama yang memerintah Champa, yang berpusat di Panduranga, adalah Sultan Abu Abdullah atau Wan Bo Tri-Tri, yang menggantikan bapa mertuanya. Beliau adalah putra Aria Gajah Mada atau Ali Nurul Alam, Perdana Menteri Majapahit II.

Champa juga menjalin hubungan dekat dengan dinasti raja-raja yang berkuasa di Nusantara, seperti Sriwijaya dan Majapahit. Dalam salah satu catatan, disebutkan bahwa Kertawijaya, Raja Majapahit, menikahi Putri Champa yaitu Putri Darawati.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Bangsa Champa juga tersebar sampai ke Aceh dan Minangkabau. Bahkan, bahasa Champa mempengaruhi Bahasa Aceh yang dituturkan di Pesisir Utara dan Pesisir Timur Aceh.

Bangsa Champa juga menganut adat matrilineal (hak warisan lebih kepada jalur ibu), sama seperti yang diamalkan oleh orang Minangkabau saat ini.

Ekspansi kekuatan oleh Vietnam sejak tahun 1720 menyebabkan runtuhnya Kerajaan Champa dan pembubaran oleh Raja Vietnam pada abad ke-19, Minh Mang, pada tahun 1832.

Sebagai tanggapan, Raja Champa Islam terakhir, Po Chien, mengumpulkan rakyat Champa di kawasan pedalaman dan melarikan diri ke selatan ke Kamboja, sementara mereka di sepanjang pantai berhijrah ke Terengganu (Malaysia).

Sebuah kelompok kecil lainnya melarikan diri ke utara ke Pulau Hainan di China, di mana mereka dikenal hari ini sebagai Utsuls.

Editor : Marjeni Rokcalva
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH