SAYA menyesal ketiduran kemaren malam. Saya juga menyesal karena nada dering HP kemaren malam Saya silent-kan. Ketika pagi, beberapa panggilan tak terjawab tampak di HP. Saya lihat WA maupun facebook, beberapa khabar duka tertulis di sana. Ganefardi Ganefo, sahabat saya sudah berpulang. Beliau meninggal di RS. M. Djamil Padang, rumah sakit yag merawatnya terakhir, setelah sebelumnya ia juga pernah dirawat di RS. BMC Terandam. Gane meninggal sekitar pukul 22.15 WIB, Kamis, 13 Februari 2020. Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Saya kemudian terbayang bagaimana Kami berdua atau bertiga atau berempat dengan Sdr. Mukhtar Anwar dan Sdr. Adril Mahaputra sempat beberapa kali keliling Sumatera Barat untuk mengurus Turnamen Sepakbola Irman Gusman Cup maupun Minangkabau Cup. Saya juga terbayang bagaimana getolnya Om Gane, begitu sapaan Kami kepadanya, meminta agar Lapangan Batuangtaba juga diperjuangkan untuk bisa mendapatkan bantuan dari Kantor Menpora. Alhamdulillah, meski hanya dengan mengcopy paste hampir semua bahan yang dibutuhkan - dari nama PSTS Tabing menjadi nama BBC Batuangtaba - Kami akhirnya sama-sama mendapatkan uang bantuan Menpora tersebut.
Dari sisi umur, sebenarnya Gane lebih tua setahun dua dari Saya. Tapi karena sama sepermainan dan sekantor dengan Kakaknya Arbaini Ben (Almarhum) di Harian Semangat Padang, maka Gane lebih sering memanggil saya dengan panggilan Bang Nofi. Panggilan itu baru berubah ketika sama-sama bertugas di Turnamen Irman Gusman maupun Minang Cup. Di kedua turnamen itu, semua Kami panitia, sepakat untuk sama-sama memanggil Om, terlepas dari berapa pun perbedaan usia di antara Kami. Dan itu tentu saja menjadi lebih enak bagi Kami berdua, karena beberapa anak Arbaini Ben, seperti Albert dan Sri juga sama-sama memanggil Om kepada Kami.
Ganefardi, yang terakhir bertugas sebagai Lurah di Kelurahan Batuangtaba, Kampung halamannya, sebelumnya memang sudah beberapa kali pindah tugas. Sebelumnya ia bertugas di Kelurahan Cengkeh. Beliau termasuk orang yang pandai bergaul dan lincah dalam berimprovisasi pada setiap tugasnya. Saya juga telah membuktikan bahwa Ganefardi sebagai seorang yang sportif dan mau mengakui kelebihan orang lain. Tanpa bermaksud sombong, itu sebabnya dalam beberapa kali kegiatan, terutama sepakbola, jabatan Gane selalu cenderung di bawah jabatan saya. Tapi jujur, meski berbeda jabatan, dalam keseharian Kami tetap kompak dan selalu bercanda.
Menyebut candaan, pasti lawan keras Gane adalah Mukhtar Anwar, mantan Sekretaris PSTS Tabing. Meski sama-sama sesuku, Guci, namun Gane paling sering dicandain Mukhtar. Kadang Gane sampai tidak bisa menjawab apa terhadap candaan Mukhtar. Bahkan tak jarang ia sempat marah kepada Mukhtar. Tapi begitu bertemu kembali, keduanya kembali kompak, dan kembali bercanda. Begitulah, Kami menyebut antara Gane dan Mukhtar kadang seperti Tommy and Jerry, dua tokoh komik itu.
Jujur, saya melihat ada keharuan di mata Om Gane, ketika melihat Kami datang. Terutama kepada Saya sahabatnya yang sudah lama tidak berjumpa, sejak turnamen Minangkabau Cup berakhir di sekitar Mei tahun lalu. Meski sempat ingin bercanda dengan Mukhtar, namun karena kondisi sudah susah untuk bicara saat itu, karena mulutnya tertutup masker oksigen, Om Gane terlihat senang dan terharu dengan kehadiran Kami. Alhamdulillah, anak-anak Beliau yang Kami temui di rumah sakit saat itu, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan serta satu menantu perempuannya, seperti memberi keleluasaan kepada Kami untuk tetap bercengkrama dengan Kami.
Sejak itu, Saya memang tidak sempat lagi berjumpa langsung dengan Om Gane. Kalau pun sempat bersapaan, hanya lewat facebook. Gane tetap dirawat di RS. M. Djamil dan masih sempat memberi khabar kepada semua sahabatnya tentang kondisinya yang masih dirawat di rumah sakit. Saya tetap mendoakan agar sahabat saya itu cepat sembuh dan bisa beraktifitas kembali. Apalagi saya dengar, turnamen Minangkabau Cup III juga sudah akan diputar, tentu keberadaan Om Gane -- terakhir Beliau menjabat Bendahara Panitia -- sangat dibutuhkan oleh Panitia.
Tapi ya sudahlah. Allah ternyata lebih sayang kepada Om Gane. Keletihan dan kejerihan Om Gane karena penyakit paru-paru yang dideritanya, ternyata membuat Om Gane, harus lebih dahulu menghadap kepada-Nya. Ia harus pergi menyusul isterinya yang beberapa tahun sebelumnya juga sudah berpulang ke rahmatullah.
Selamat jalan Om Gane... Semoga Engkau husnul khotimah dan diterima di surga-Nya Allah SWT. Aamiin. (***)
Editor : Berita Minang






