Genefri menekankan, salah satu yang menjadi isu urgen dalam peristiwa ini adalah pendidikan ketauhidan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimassalam, kompak menjalani perintah Allah. Keduanya berserah diri dan bertawakal menjalani perintah Sang Pencipta, meskipun ketika hendak disembelih, Allah menggantinya dengan hewan sembelihan dari surga.
"Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah pentingnya menanamkan ketauhidan kepada keluarga," tegas mantan Rektor UNP dua periode ini.
Teladan Kisah IIdul Qurban
Dalam kesempatan yang sama, Ganefri juga menguraikan keteladanan yang bisa dipetik dalam peristiwa Idul Qurban sejak zaman Nabi Ibrahim As, hingga kini, yakni:
Pertama, Pengorbanan tanpa batas kepada Allah Swt
Marilah kita perhatikan, Allah tak minta nyawa Ibrahim, Allah tak minta istri Ibrahim, Allah tak minta kambing Ibrahim, Allah tak minta kebun Ibrahim. Tapi ada satu yang paling dicintai Ibrahim, itulah nyawa yang ditunggu lama oleh Ibrahim selama 86 tahun. Sunggu lama Ibrahim memanjatkan doa itu. Ingin meminta anak yang shalih, tapi ketika anak itu datang, ternyata ujian belum berakhir.
Inilah orang beriman, ujian keimanan tidak pernah berhenti atasnya. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang merasa dirinya telah beramal Shalih, sudah beriman, namun ia terus mengalami ujian silli berganti, itu tak lain dan tak bukan, merupakan ujian keimanan. Di sinilah Allah ingin menempatkannya di tempat terpuji.
Tadi telah kita ketahui bersama, bahwa makna kisah Ibrahim adalah memberikan yang terbaik kepada Allah Swt. Dan untuk meneladaninya kita perlu mengetahui dua sifat yang melekat dalam jiwanya.
Hanif, yaitu condong kepada kebenaran/ Allah. Ibrahim tidak condong kepada harta. Ibrahim tidak condong kepada anak, Ibrahim tidak condong pada kuasa dunia. Lantas kemana ia condong? Tak lain, ia hanya condong kepada Allah Swt. Dari sinilah kita bisa menyimpulkan, bahwa "Cinta kepada manusia, hanya bisa dikalahkan dengan iman kepada pencipta". singkatnya, power iman inilah yang menyadarkannya, karena iman kita hidup, untuk iman kita berjuang dan hanya dalam iman kita kembali pada Allah Swt.
Selanjutnya, Muslim; yaitu berserah diri kepada Allah. Ibrahim tak berserah kepada anak, Ibrahim tidak berserah pada kepada Hajar, Ibrahim tak berserah kepada harta, Ibrahim tak berserah kepada kekuasaan. Lantas kemana kemana ia berserah? Tak lain hanya kepada Allah Swt.
Editor : Berita Minang






