IKLAN KUPING KANAN PASISI 12
IKLAN POSISI 13

Bahas Metode Pendidikan Hiwari Nabi Ibrahim, Ini Khutbah Idul Adha Ketua PWNU Sumbar Prof. Ganefri

Ketua PWNU Sumbar Prof. H. Ganefri saat jadi Khatib Shalat Idul Adha 1445 H di kampung halamannya, di Masjid Raya Jorong Talago, Nagari VII Koto Talago, Kec. Guguak, Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024). Foto: Ist.
Ketua PWNU Sumbar Prof. H. Ganefri saat jadi Khatib Shalat Idul Adha 1445 H di kampung halamannya, di Masjid Raya Jorong Talago, Nagari VII Koto Talago, Kec. Guguak, Kab. Limapuluh Kota, Senin (17/06/2024). Foto: Ist.
PT GITO PERDANA SEJAHTERA

Genefri menekankan, salah satu yang menjadi isu urgen dalam peristiwa ini adalah pendidikan ketauhidan. Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail 'alaihimassalam, kompak menjalani perintah Allah. Keduanya berserah diri dan bertawakal menjalani perintah Sang Pencipta, meskipun ketika hendak disembelih, Allah menggantinya dengan hewan sembelihan dari surga.

"Pelajaran yang bisa kita petik dari peristiwa ini adalah pentingnya menanamkan ketauhidan kepada keluarga," tegas mantan Rektor UNP dua periode ini.

Teladan Kisah IIdul Qurban

Dalam kesempatan yang sama, Ganefri juga menguraikan keteladanan yang bisa dipetik dalam peristiwa Idul Qurban sejak zaman Nabi Ibrahim As, hingga kini, yakni:

Pertama, Pengorbanan tanpa batas kepada Allah Swt

Marilah kita perhatikan, Allah tak minta nyawa Ibrahim, Allah tak minta istri Ibrahim, Allah tak minta kambing Ibrahim, Allah tak minta kebun Ibrahim. Tapi ada satu yang paling dicintai Ibrahim, itulah nyawa yang ditunggu lama oleh Ibrahim selama 86 tahun. Sunggu lama Ibrahim memanjatkan doa itu. Ingin meminta anak yang shalih, tapi ketika anak itu datang, ternyata ujian belum berakhir.

Inilah orang beriman, ujian keimanan tidak pernah berhenti atasnya. Oleh sebab itu, kalau ada orang yang merasa dirinya telah beramal Shalih, sudah beriman, namun ia terus mengalami ujian silli berganti, itu tak lain dan tak bukan, merupakan ujian keimanan. Di sinilah Allah ingin menempatkannya di tempat terpuji.

Advertisement
BANNER POSISI 14
Scroll kebawah untuk lihat konten
Kedua, Hanif dan Muslim

Tadi telah kita ketahui bersama, bahwa makna kisah Ibrahim adalah memberikan yang terbaik kepada Allah Swt. Dan untuk meneladaninya kita perlu mengetahui dua sifat yang melekat dalam jiwanya.

Hanif, yaitu condong kepada kebenaran/ Allah. Ibrahim tidak condong kepada harta. Ibrahim tidak condong kepada anak, Ibrahim tidak condong pada kuasa dunia. Lantas kemana ia condong? Tak lain, ia hanya condong kepada Allah Swt. Dari sinilah kita bisa menyimpulkan, bahwa "Cinta kepada manusia, hanya bisa dikalahkan dengan iman kepada pencipta". singkatnya, power iman inilah yang menyadarkannya, karena iman kita hidup, untuk iman kita berjuang dan hanya dalam iman kita kembali pada Allah Swt.

Selanjutnya, Muslim; yaitu berserah diri kepada Allah. Ibrahim tak berserah kepada anak, Ibrahim tidak berserah pada kepada Hajar, Ibrahim tak berserah kepada harta, Ibrahim tak berserah kepada kekuasaan. Lantas kemana kemana ia berserah? Tak lain hanya kepada Allah Swt.

Editor : Berita Minang
Tag:
IKLAN POSISI 15
Bagikan

Berita Terkait
AMSI MEMBER
Terkini
BANNER POSOSI 5
IKLAN LAYANAN MASYARAKAT SAMPAH